Gunungkidul Luncurkan Gerakan Konservasi Pasca-Tanah Longsor dengan Penanaman 3.000 Bibit Pohon

Gunungkidul Luncurkan Gerakan Konservasi Pasca-Tanah Longsor dengan Penanaman 3.000 Bibit Pohon

NYALANUSANTARA, Gunungkidul – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bersama Harian Jogja dan mitra strategis meluncurkan gerakan konservasi di Dusun Jono, Kapanewon Ngawen, sebagai upaya mitigasi bencana dan pemulihan lingkungan pasca-tanah longsor.

Kegiatan yang digelar Senin, 18 Mei 2026, ditandai dengan penanaman 3.000 bibit pohon, terdiri dari pohon nangka dan tanaman vetiver (akar wangi), yang berfungsi memperkuat struktur tanah dan menjaga kelestarian alam.

Pemimpin Redaksi Harian Jogja, Anton Wahyu Priartono, menekankan aksi ini sebagai kontribusi nyata untuk penyelamatan lingkungan. “Ini adalah upaya kecil, tapi jika konsisten dilakukan dan diikuti pihak lain, akan memberi kontribusi besar bagi lingkungan,” ujarnya. 

Kegiatan ini melibatkan gotong royong dari TNI, Polri, pemerintah daerah, dan sektor swasta seperti PT Solusi Bangun Indonesia, Djarum Foundation, PDAB Tirtamarta, serta Bank Daerah Gunungkidul (BDG).

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menjelaskan pemilihan pohon nangka sebagai komoditas utama penanaman. Pohon ini memiliki nilai historis sebagai cikal bakal Gunungkidul, ditetapkan sebagai flora identitas daerah, dan memiliki nilai ekonomi serta ekologis yang tinggi, termasuk sebagai penyangga bahan baku gudeg di Yogyakarta. 

“Selain aspek identitas, seluruh bagian pohon, mulai dari buah, daun untuk pakan ternak hingga kayunya, memiliki nilai guna yang tinggi bagi masyarakat,” kata Bupati Endah.

Tanaman vetiver ditanam khusus untuk mengonservasi lahan rawan longsor karena kemampuannya mengikat tanah dengan kuat. Dusun Jono dipilih sebagai lokasi penanaman menyusul peristiwa tanah longsor beberapa bulan lalu.

Kegiatan ini juga melibatkan akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan siswa-siswi sekolah sebagai edukasi konservasi sejak dini. Pemerintah Kabupaten menitipkan perawatan tanaman kepada warga dan kelompok tani setempat, dengan semangat menjaga alam meski penanaman dilakukan saat musim kemarau.

“Menanam berarti menanam harapan untuk masa depan. Kami berharap ini bukan agenda sesaat, tetapi menjadi gerakan bersama yang terus berlanjut,” pungkas Bupati Endah. 

Dengan meningkatnya kesadaran kolektif, pembangunan Gunungkidul diharapkan dapat berjalan lebih kuat, cepat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
 

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini