Upacara Hari Kebangkitan Nasional, Kemenkum Jateng Ajak Refleksikan Fundamental Budi Utomo
NYALANUSANTARA, Semarang - Sejarah Hari Kebangkitan Nasional bermula dari lahirnya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Organisasi ini didirikan oleh para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia, dipelopori oleh Dr. Soetomo dan terinspirasi gagasan Dr. Wahidin Sudirohusodo.
Sebelum masa itu, perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan masih bersifat kedaerahan dan terpisah-pisah. Kehadiran Budi Utomo menjadi titik awal tumbuhnya kesadaran nasional untuk bersatu sebagai bangsa Indonesia. Karena dianggap sebagai awal bangkitnya semangat persatuan dan nasionalisme Indonesia, pemerintah kemudian menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-118, Kanwil Kemenkum Jateng menggelar upacara yang diikuti oleh seluruh pegawai yang diselenggarakan di lapangan upacara Kanwil. Hadir mengikuti pula seluruh jajaran Kanwil Kementerian HAM Jawa Tengah.
Pada kesempatan itu bertindak sebagai Inspektur Upacara, Kepala Kanwil Kemenkum Jateng, Heni Susila Wardoyo, Komandan Upacara dan Perwira Upacara yakni Perancang Peraturan Perundang-undangan Madya, Riko Budi Santoso dan Hery Setyawan.
Kakanwil yang membawakan sambutan Menteri Komunikasi dan Digital mengajak untuk merefleksikan momentum fundamental yang merujuk pada berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908. Sejarah mencatat bahwa peristiwa tersebut adalah "fajar menyingsing" bagi kesadaran berbangsa, di mana kaum terpelajar pribumi mulai mengonsolidasikan kekuatan melalui pemikiran dan organisasi, melampaui sekat-sekat kedaerahan yang selama berabad-abad menjadi titik lemah perjuangan.
Ia juga menjelaskan bahwa semangat 1908 adalah tonggak di mana perlawanan fisik mulai bertransformasi menjadi perjuangan intelektual dan diplomatik demi kedaulatan bangsa yang bermartabat.
"Secara filosofis, Kebangkitan Nasional merupakan sebuah proses dinamis yang bersifat mutatis mutandis, yang artinya menyesuaikan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Kebangkitan berarti keberanian untuk melepaskan diri dari belenggu ketidaktahuan dan ketertinggalan. Memasuki tahun 2026 ini, tantangan bangsa telah bergeser dari kedaulatan teritorial menuju kedaulatan informasi dan transformasi digital," kata Heni.
Lebih lanjut, Heni mengatakan Hari Kebangkitan Nasional untuk dijadikan momen meneguhkan kembali arah perjalanan bangsa dengan menempatkan Asta Cita, delapan misi besar yang harus dicapai bersama, sebagai kompas utama. Yang harus mampu diwujudkan untuk menghadirkan perubahan nyata dan terasa di tengah kehidupan rakyat.
"Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan literasi digital, dan memastikan bahwa setiap langkah pembangunan yang diambil senantiasa berorientasi pada kemajuan bersama," ujarnya.
"Kebangkitan Nasional adalah milik kita semua; bermula dari kesadaran individu yang terakumulasi secara kolektif, dan berujung pada kejayaan bangsa di kancah dunia," imbuh Heni.
Editor: Holy
Terkini
Semarang – Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menorehkan prestasi…
Semarang – Prestasi kembali ditorehkan oleh sivitas akademika…
NYALANUSANTARA, Semarang – Gelandang anyar PSIS Semarang, Syahrian…
Pemkot Semarang-Masyarakat Rawat Harmoni dalam Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee ke-166
NYALANUSANTARA, Semarang - Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang…
NYALANUSANTARA, Semarang – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng,…
NYALANUSANTARA, Semarang - Perkembangan E-Sport dalam beberapa tahun…
NYALANUSANTARA, Semarang - PSIS Semarang resmi memperpanjang kontrak…
NYALANUSANTARA, Jakarta – Pebalap muda binaan PT Astra…
NYALANUSANTARA, Semarang - PSIS Semarang kembali menambah amunisi…
NYALANUSANTARA, Semarang – Bandara Internasiobal Jenderal Ahmad Yani…
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Daop 4 Semarang…
Komentar