Kenaikan Harga Tepung Tapioka Hampir 60%, Bikin Perajin Kerupuk Ambeng di Secang Terbebani

Kenaikan Harga Tepung Tapioka Hampir 60%, Bikin Perajin Kerupuk Ambeng di Secang Terbebani

NYALANUSANTARA, Mungkid– Perajin kerupuk ambeng atau kerupuk kenduri di Dusun Sindas, Desa Pancuranmas, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, mengeluhkan kenaikan harga bahan baku tepung tapioka yang signifikan.

Hasan Ari, pemilik usaha kerupuk mentah, menyatakan kenaikan harga tepung tapioka hampir 60 persen, dari Rp600.000 per kuintal menjadi sekitar Rp950.000 per kuintal. “Dampaknya, mau naikkan harga jual di pasaran nggak mudah karena takut pelanggan pergi,” ungkap Hasan, Kamis (21/5/2026).

Setiap harinya, usaha Hasan membutuhkan sekitar 150 kg tepung tapioka. Kenaikan harga mulai dirasakan sejak Lebaran dan berlanjut hingga saat ini. Untuk menjaga kelangsungan usaha, Hasan terpaksa menyesuaikan harga jual kerupuk kering dari Rp15.000 per kilogram menjadi Rp17.000 per kilogram. Meski demikian, ia mengaku laba yang diperoleh masih tipis dan hanya cukup menutupi biaya produksi. 

“Kalau bisa naik Rp20.000 per kg sih lebih ideal, karena biaya tenaga kerja dan operasional lain juga banyak,” tambahnya.

Kerupuk ambeng dari Secang selama ini dipasarkan ke sejumlah kota di wilayah Kedu dan beberapa kota di Jawa Tengah. Produk ini memiliki keterkaitan kuat dengan tradisi masyarakat setempat, seperti hajatan dan selamatan kenduri.

Kepala Desa Pancuranmas, Yuni Puji Istiono, membenarkan bahwa usaha kerupuk ambeng berbahan baku tepung tapioka menjadi salah satu UMKM unggulan di wilayahnya. Sebagai upaya pendampingan, Yuni menyarankan agar produk kerupuk ambeng juga dipasarkan melalui Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang telah beroperasi. 

“Insya Allah akan bisa dititipkan ke koperasi, termasuk di sektor pertanian juga,” ujar Yuni.

Upaya ini diharapkan dapat membantu perajin kerupuk ambeng tetap bertahan menghadapi kenaikan harga bahan baku sekaligus memperluas akses pasar lokal.
 

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini