ISEI Semarang Gelar Seminar Nasional Bahas Ketahanan Ekonomi dan Perbankan di Tengah Ketidakpastian Global

ISEI Semarang Gelar Seminar Nasional Bahas Ketahanan Ekonomi dan Perbankan di Tengah Ketidakpastian Global

NYALANUSANTARA, Semarang– Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Semarang menggelar Seminar Nasional bertema Ketahanan Ekonomi dan Perbankan Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global di Kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES). Acara ini menghadirkan dua narasumber dari sektor ekonomi strategis, yakni Doddy Zulverdy dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan M. Noor Nugroho dari Bank Indonesia, dengan Prof. Firmansyah dari Universitas Diponegoro sebagai moderator.

Seminar yang dihadiri akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pelaku ekonomi berlangsung interaktif dan hangat. Sejak awal, peserta terutama mahasiswa, aktif mengajukan pertanyaan dan berdiskusi mengenai kondisi ekonomi nasional dan global.

Dalam paparannya, Doddy Zulverdy menekankan ketahanan ekonomi Indonesia yang masih kuat meski situasi global dipenuhi ketidakpastian akibat konflik geopolitik, ketegangan perdagangan internasional, dan fluktuasi nilai tukar. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2026 tercatat 5,61 persen secara tahunan, lebih tinggi dari ekspektasi pasar, terutama ditopang konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Doddy juga menyoroti ketahanan sektor perbankan nasional yang masih resilien. Perbankan hingga April 2026 didukung permodalan kuat, likuiditas memadai, dan kualitas kredit yang relatif terjaga. Meski demikian, ia mengingatkan risiko eksternal seperti penguatan dolar AS, arus modal ke aset *safe haven*, serta kenaikan harga energi dunia yang dapat memengaruhi inflasi dan biaya produksi. Tantangan lain termasuk persaingan dengan fintech, serangan siber, dan tuntutan layanan digital yang cepat. LPS menanggapi tantangan tersebut melalui penguatan monitoring, pengelolaan dana penjaminan, edukasi masyarakat, dan peningkatan keamanan siber.

Sementara itu, M. Noor Nugroho menekankan penguatan ekonomi daerah melalui pengendalian inflasi pangan dan stabilitas ekonomi regional. Strategi dilakukan mulai dari menjaga pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, hingga komunikasi strategis kepada masyarakat. Noor menyoroti penguatan sektor pangan sebagai kunci stabilitas, dengan contoh program rehabilitasi irigasi, bantuan benih unggul, mekanisasi pertanian, penguatan distribusi pangan, dan Gerakan Pangan Murah di Jawa Tengah.

Sesi tanya jawab berlangsung hidup dengan pertanyaan seputar kondisi ekonomi Indonesia, stabilitas nilai tukar rupiah, risiko resesi global, hingga peluang ekonomi digital bagi generasi muda. Moderator Prof. Firmansyah memastikan diskusi tetap interaktif dan substantif.

Melalui seminar ini, ISEI Semarang mendorong ruang diskusi produktif antara akademisi, regulator, dan mahasiswa, sekaligus memperkuat literasi ekonomi dan keterlibatan generasi muda dalam merespons tantangan ekonomi nasional dan global.

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini