Museum Batik Pekalongan Gelar Bedah Buku tentang Strategi Menuturkan Warisan Budaya
NYALANUSANTARA, Pekalongan– Museum Batik Pekalongan menggelar bedah buku *Dari Koleksi ke Komunikasi: Strategi Museum Batik Pekalongan dalam Menuturkan Warisan Dunia* di Ruang Pamer 1 Museum Batik Pekalongan, Rabu (3/6/2026).
Buku tersebut merupakan karya Gatut Priyowidodo, Ido Prijana Hadi, dan Aniendya Christianna dari Universitas Kristen Petra Surabaya. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi mengenai peran museum dalam mengedukasi masyarakat serta mewariskan nilai budaya batik kepada generasi muda.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kota Pekalongan, Sabaryo Pramono, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, buku ini memberikan sudut pandang penting mengenai penguatan peran Museum Batik Pekalongan agar lebih terbuka, kolaboratif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Sabaryo menilai museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi. Museum juga memiliki peran sebagai ruang pelestarian, pengembangan, dan alih pengetahuan budaya kepada masyarakat.
"Harapannya batik tidak hilang dari Indonesia, khususnya Kota Pekalongan yang sudah dikenal sebagai Kota Batik. Generasi yang akan datang harus memahami dan mencintai batik sebagai warisan budaya bangsa. Kami juga berterima kasih kepada tim Universitas Kristen Petra Surabaya yang telah memberikan dukungan bagi pengembangan batik di Kota Pekalongan," ungkap Sabaryo.
Sementara itu, Kepala Museum Batik Pekalongan, Nurhayati Sinaga, menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari hasil kajian tim Universitas Kristen Petra Surabaya pada tahun sebelumnya. Kajian itu membahas pengaruh kolonial dalam perkembangan batik serta posisi Pekalongan sebagai salah satu pusat penting batik dunia.
Menurut Nurhayati, hasil kajian tersebut menunjukkan adanya pendekatan komunikasi yang khas dalam pengelolaan Museum Batik Pekalongan. Pendekatan itu kemudian menjadi dasar penyusunan buku *Dari Koleksi ke Komunikasi*.
"Kami ingin menyampaikan pesan bahwa museum bukanlah ruang yang statis, melainkan ruang yang hidup dan dapat berbicara kepada masyarakat. Karena itu, sasaran kegiatan bedah buku kali ini adalah siswa dan mahasiswa agar semakin banyak anak muda yang mengenal serta mencintai batik," jelas Nurhayati.
Melalui buku ini, Museum Batik Pekalongan ingin memperlihatkan bahwa museum dapat menjadi ruang edukasi yang hidup, partisipatif, dan dekat dengan masyarakat. Museum tidak hanya menghadirkan koleksi, tetapi juga menyampaikan cerita, identitas, pengalaman, dan nilai budaya yang terkandung dalam batik.
Kegiatan bedah buku tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Museum Batik Pekalongan sebagai pusat edukasi dan pelestarian budaya. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya Indonesia bagi generasi mendatang.
Editor: Redaksi
Terkait
NYALANUSANTARA, Pekalongan— Upaya pengurangan risiko bencana di Kota…
Terkini
Semarang – Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menorehkan prestasi…
Semarang – Prestasi kembali ditorehkan oleh sivitas akademika…
NYALANUSANTARA, Semarang – Gelandang anyar PSIS Semarang, Syahrian…
Pemkot Semarang-Masyarakat Rawat Harmoni dalam Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee ke-166
NYALANUSANTARA, Semarang - Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang…
NYALANUSANTARA, Semarang – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng,…
NYALANUSANTARA, Semarang - Perkembangan E-Sport dalam beberapa tahun…
NYALANUSANTARA, Semarang - PSIS Semarang resmi memperpanjang kontrak…
NYALANUSANTARA, Jakarta – Pebalap muda binaan PT Astra…
NYALANUSANTARA, Semarang - PSIS Semarang kembali menambah amunisi…
NYALANUSANTARA, Semarang – Bandara Internasiobal Jenderal Ahmad Yani…
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Daop 4 Semarang…
Komentar