Pacuan Kuda Tradisional Gayo Kembali Digelar, Simbol Kebersamaan Pascabanjir Bandang

Pacuan Kuda Tradisional Gayo Kembali Digelar, Simbol Kebersamaan Pascabanjir Bandang

XINHUA

NYALANUSANTARA, ACEH- Pacuan kuda tradisional Gayo kembali digelar di Arena Pacuan Kuda Belang Bebangka, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Tradisi yang telah berlangsung sejak era kolonial Belanda tersebut masih terus dipertahankan dan menjadi salah satu warisan budaya masyarakat Gayo hingga saat ini.

Keunikan pacuan kuda Gayo terletak pada para joki yang sebagian besar merupakan remaja berusia antara 10 hingga 15 tahun. Dengan keterampilan dan keberanian yang diasah sejak dini, mereka menunggangi kuda-kuda pacu dalam perlombaan yang selalu menarik perhatian masyarakat setempat maupun wisatawan.

Penyelenggaraan pacuan kuda tahun 2026 memiliki makna yang lebih mendalam. Selain sebagai ajang olahraga dan pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi bentuk solidaritas masyarakat Gayo setelah wilayah tersebut terdampak banjir bandang pada akhir November 2025.

Ribuan warga memadati arena untuk menyaksikan perlombaan yang berlangsung meriah. Sejak pagi hari, para pemilik kuda dan pekerja terlihat mempersiapkan hewan pacuan mereka sebelum turun ke lintasan.

Saat perlombaan dimulai, para joki muda memacu kuda dengan penuh semangat di hadapan sorak-sorai penonton. Pemandangan barisan kuda yang berlari kencang di lintasan menjadi daya tarik utama yang mencerminkan semangat, keberanian, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Dari udara, suasana arena tampak semakin spektakuler. Ribuan penonton mengelilingi lintasan pacuan, menciptakan atmosfer khas yang selalu mewarnai perhelatan budaya masyarakat Gayo.

Bagi masyarakat Aceh Tengah, pacuan kuda bukan sekadar perlombaan olahraga, melainkan bagian dari identitas budaya yang merekatkan hubungan sosial dan memperkuat kebersamaan. Tahun ini, penyelenggaraannya juga menjadi simbol kebangkitan dan harapan masyarakat untuk bangkit setelah menghadapi bencana alam yang melanda wilayah tersebut.

Melalui tradisi yang terus dilestarikan, masyarakat Gayo menunjukkan bahwa warisan budaya dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan sekaligus membangun optimisme dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini