Didik J Rachbini: Safari Politik Jokowi Ancam Stabilitas Investasi dan Bisnis Nasional

Didik J Rachbini: Safari Politik Jokowi Ancam Stabilitas Investasi dan Bisnis Nasional

NYALANUSANTARA, Jakarta- Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini menilai safari politik yang tengah dijalankan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpotensi menjadi faktor destabilisasi ekonomi nasional. Aktivitas politik tersebut dinilai meningkatkan ketidakpastian yang dapat mengganggu investasi, dunia usaha, dan lingkungan bisnis.

"Saya pastikan pengaruh tersebut negatif, buruk, dan akan menjadi faktor ketidakpastian politik bagi investasi, dunia usaha, dan lingkungan bisnis. Semua pihak, terutama pengusaha dan pemilik modal, pasti akan melihat dinamika baru ini sebagai persaingan elite politik yang meningkatkan risiko," ujar Prof. Didik, Minggu (28/6/2026).

Menurutnya, safari politik yang telah dimulai dari Lampung dan direncanakan berlanjut ke berbagai daerah itu berlangsung di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar modal. Ia menilai langkah tersebut tidak hanya memiliki implikasi politik menuju Pemilu 2029, tetapi juga mengancam konsentrasi pemerintahan dalam menjalankan program ekonomi — mengingat Jokowi masih memiliki pengaruh kuat melalui jejaring politiknya.

"Gerakan politik yang terlalu dini ini akan menjadi hama yang akan mengganggu dan bisa menggerogoti pemerintahan. Pengaruh politiknya jelas masih ada dan bahkan masih cukup kuat, serta terus akan memperkuatnya dengan cantolan pada jabatan anaknya sebagai Wakil Presiden," tegasnya.

Prof. Didik juga menyoroti perubahan sikap Jokowi yang sebelumnya pernah berjanji akan kembali ke Solo sebagai rakyat biasa setelah masa jabatannya berakhir. 

"Jokowi pernah berjanji pulang ke Solo menjadi rakyat biasa dan berkumpul dengan cucu, tetapi janji etis itu tidak pernah terjadi. Dari dulu publik, apalagi pesaing politiknya, tidak percaya — dan kemudian terbukti sekarang melakukan gerakan politik vulgar sebagai tanda koalisi dengan pemerintahan Prabowo akan mulai tutup buku," katanya.

Dalam perspektif ekonomi politik, ia menilai hubungan antara presiden aktif dan mantan presiden yang masih memiliki pengaruh merupakan faktor yang dapat memengaruhi persepsi pelaku ekonomi. Dinamika itu, menurutnya, berpotensi mempengaruhi institusi, birokrasi, kebijakan, dan ekspektasi ekonomi secara keseluruhan.

Ia juga menyebut maraknya kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke berbagai daerah sebagai indikasi meningkatnya intensitas aktivitas politik elite. Kondisi itu berisiko mengalihkan perhatian pemerintah dari kepentingan masyarakat, khususnya di bidang ekonomi.

Meski demikian, Prof. Didik mengakui bahwa indikator fundamental ekonomi Indonesia — termasuk inflasi, neraca perdagangan, cadangan devisa, dan pertumbuhan ekonomi — masih berada pada kondisi yang relatif baik. Tekanan yang ada, menurutnya, lebih banyak bersumber dari faktor non-ekonomi.

"Jokowi dengan safari politiknya tidak ada hubungan dengan kesejahteraan dan kepentingan rakyat, bahkan menjadi faktor negatif dan buruk di dalam ekonomi nasional," pungkas Prof. Didik.
 


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini