Geser Pola Lama, LSL Dominasi Penularan HIV di Jawa Tengah Lima Tahun Terakhir
Foto istimewa.
NYALANUSANTARA, Semarang — Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mencatat pergeseran signifikan pola penularan HIV di wilayah tersebut. Selama lima tahun terakhir, kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) menjadi penyumbang kasus dominan, menggantikan pola dekade sebelumnya yang lebih banyak terjadi pada ibu rumah tangga dan pengguna narkoba suntik.
Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Zulfachmi Wahab, mengatakan tingginya frekuensi kontak seksual berisiko pada kelompok usia muda menjadi salah satu faktor pendorong tren ini.
"Ya, selama lima tahun terakhir LSL mendominasi penularan HIV, prinsipnya sama saja penularannya. Cuma, biasanya kan (HIV) menyerang usia muda, frekuensi kontaknya mungkin lebih sering. Sehingga iritasi yang ditimbulkan karena kontak itu lebih besar maka penularan penyakit bisa lebih mudah," ujarnya, Senin (29/6/2026).
Zulfachmi menambahkan, penularan dari suami kepada ibu rumah tangga masih terjadi, namun jumlahnya kini kalah banyak dibanding kasus pada kelompok LSL. Ia menilai persoalan ini bukan semata soal edukasi, melainkan tantangan dalam mengintervensi gaya hidup masyarakat.
"Artinya, mungkin edukasi sudah benar hanya gaya hidup yang susah kami kendalikan. Usia 20 tahun sampai 30 tahun tertinggi, peak-nya umur 40 tahun," katanya, merujuk pada dominasi kasus di kelompok usia produktif.
Berdasarkan data kumulatif Dinkes Jateng dalam delapan tahun terakhir hingga 30 April 2026, total temuan kasus HIV di provinsi ini mencapai 41.743 kasus, dengan komposisi 73 persen penderita laki-laki dan 27 persen perempuan. Adapun temuan kasus baru sepanjang 2026 tercatat sebanyak 1.704 kasus, dengan kelompok usia produktif menyumbang angka tertinggi: usia 25–29 tahun sebanyak 265 kasus, usia 30–34 tahun sebanyak 244 kasus, dan usia 20–24 tahun sebanyak 235 kasus.
Secara geografis, Kota Semarang mencatatkan temuan kasus baru tertinggi tahun ini dengan 229 kasus, diikuti Banyumas 107 kasus, Pati 98 kasus, dan Brebes 66 kasus. Sementara itu, daerah dengan temuan kasus paling sedikit berada di Temanggung dengan 20 kasus dan Magelang dengan 22 kasus. Meski angka tahun berjalan ini fluktuatif, grafik penemuan kasus tahunan di Jateng secara umum menunjukkan tren penurunan dibanding tahun 2024 dan 2025.
Menanggapi dinamika tersebut, Ketua Yayasan Sehat Peduli Kasih, Puta Aryatama, menilai lonjakan statistik pada kelompok LSL lebih dipengaruhi oleh runtuhnya stigma negatif yang membuat komunitas ini kini lebih terbuka untuk memeriksakan diri, bukan semata peningkatan penularan baru.
"Iya, ada pergeseran tersebut selama lima tahun terakhir. Tren LSL menggantikan dominasi kelompok ibu rumah tangga pada periode 2010–2020 dan pengguna narkoba suntik pada 2007–2010," urainya.
Puta menjelaskan, kelompok LSL sebenarnya sudah ada sejak lama namun cenderung tertutup. "Baru beberapa tahun terakhir ini mereka terbuka, meskipun ada pula LSL yang masih hidden (menyembunyikan aktivitas seksual)," jelasnya.
Editor: Redaksi
Terkait
NYALANUSANTARA, Semarang - Dinas Kesehatan atau Dinkes Kota…
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang - Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan…
NYALANUSANTARA, Jakarta -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menuntaskan…
NYALANUSANTARA, Surakarta - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh…
Genre horor Indonesia kembali menghadirkan warna baru melalui…
Film horor Asia kembali menyapa penonton Indonesia melalui…
NYALANUSANTARA, Banyumas – Kementerian Hukum melalui Kanwil Kemenkum…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Samsung dikabarkan akan menaikkan harga lini ponsel…
NYALANUSANTARA, JEPARA- Asus resmi memperkenalkan Vivobook 14 dan Vivobook…
NYALANUSANTARA, KENDAL- Dell resmi memperkenalkan jajaran workstation terbaru Dell…
NYALAUSANTARA, BLORA- Samsung dikabarkan tengah mempersiapkan peluncuran seri tablet…
Film I, Nobody resmi tayang di bioskop pada…
Komentar