Bukan Cuma Ibu yang Berjuang, Ini Rahasia Persalinan Aman Ala Bidan RSUD Muntilan

Bukan Cuma Ibu yang Berjuang, Ini Rahasia Persalinan Aman Ala Bidan RSUD Muntilan

NYALANUSANTARA, Muntilan– Melahirkan sering digambarkan sebagai momen penuh keajaiban, namun di balik itu tersimpan risiko yang tak boleh dianggap remeh. Tanpa persiapan matang, keluarga bisa terjebak dalam kepanikan mendadak saat hari-H tiba, dan kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.

Hal ini ditegaskan Bidan RSUD Muntilan Kabupaten Magelang, Farida Purwandari, dalam talkshow Jamus Gemilang di LPPL Radio Gemilang, Kamis (2/7/2026).

"Dalam dunia kesehatan, persiapan yang matang ini gunanya untuk mencegah 'Tiga Terlambat'. Yaitu terlambat mengenali tanda bahaya sehingga telat mengambil keputusan, terlambat sampai ke rumah sakit atau Puskesmas karena bingung kendaraan, dan akhirnya terlambat mendapatkan penanganan medis," ujar Farida.

Selama ini banyak yang mengira persalinan hanyalah "pertarungan" seorang ibu seorang diri. Farida buru-buru meluruskan anggapan keliru tersebut. Baginya, melahirkan adalah momen besar milik seluruh keluarga, di mana suami wajib tampil sebagai garda terdepan pendukung sang istri.

Ia memperkenalkan konsep "Suami SIAGA" alias Siap, Antar, Jaga -- sebuah peran yang ternyata punya efek biologis nyata pada kelancaran persalinan. Saat ibu merasa tenang dan penuh dukungan, tubuhnya akan memproduksi hormon oksitosin, "hormon cinta" yang membuat kontraksi rahim berjalan lancar dan teratur.

"Sebaliknya, kalau Ibu stres atau merasa berjuang sendiri, hormon adrenalin yang akan naik sehingga persalinan terasa jauh lebih menyakitkan atau justru terhambat," lanjutnya.

Menurut Farida, persiapan matang tak bisa dadakan. Sejak trimester pertama, cicilan rencana harus mulai disusun, dan wajib rampung serta disepakati begitu usia kandungan menyentuh tujuh bulan. Prinsip ini dikenal dengan istilah P4K atau Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi, yang mencakup empat bekal penting.

Pertama, kepastian tempat dan penolong persalinan, entah di Puskesmas, klinik, atau rumah sakit, lengkap dengan siapa bidan atau dokter yang akan menangani. Kedua, kesiapan transportasi darurat beserta kontak pengemudi yang bisa dihubungi kapan saja, siang maupun malam. Ketiga, kesiapan biaya, baik melalui tabungan bersalin (Tabulin) maupun memastikan kartu JKN/BPJS masih aktif. Keempat, menyiapkan calon pendonor darah, minimal dua orang bergolongan darah sama, untuk berjaga-jaga jika terjadi perdarahan.

Tak berhenti di situ, Farida juga mengingatkan pentingnya menyiapkan "Tas Bersalin" begitu usia kandungan memasuki 36 minggu, mulai dari dokumen penting seperti KTP, BPJS, dan Buku KIA/Pink, hingga perlengkapan ibu dan baju bayi.

"Ibu hamil juga diimbau melakukan persiapan fisik seperti jalan santai guna membantu kepala bayi turun ke panggul, serta melatih teknik pernapasan," tambahnya.

Kementerian Kesehatan mematok standar minimal enam kali pemeriksaan kehamilan sepanjang masa kandungan: satu kali di trimester pertama yang wajib disertai USG ke dokter, dua kali di trimester kedua, tiga kali di trimester ketiga, ditambah satu kali kunjungan khusus ke dokter untuk merancang rencana persalinan yang aman.

"Pemeriksaan dapat dilakukan di Puskesmas atau praktik mandiri bidan untuk kehamilan normal, sedangkan kehamilan risiko tinggi wajib dirujuk ke rumah sakit," pesannya.

Farida mengingatkan, saat muncul tanda-tanda seperti mulas teratur, keluar lendir darah, atau pecah ketuban, keluarga juga wajib waspada terhadap sinyal bahaya lain yang butuh penanganan segera: perdarahan segar, air ketuban keruh atau berbau, kejang atau sakit kepala hebat, tali pusat yang keluar lebih dulu, demam tinggi, hingga gerakan bayi yang tiba-tiba berkurang drastis, kurang dari 10 kali dalam dua jam.

Momen ini turut menjadi ajang refleksi bertepatan dengan peringatan Hari Bidan Nasional pada 24 Juni 2026. Farida menyebut profesi bidan sebagai pilar krusial pembangunan kesehatan bangsa, sosok yang setia mengawal setiap detik proses kehidupan baru.

"Apresiasi atas dedikasi tinggi para bidan di seluruh lini pelayanan dalam mengawal keselamatan ibu dan anak di Indonesia," pungkas Farida. 

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini