Kemenkum Jateng Dorong Pendaftaran IG Batik Girilayu, 105 PUD Karanganyar Menunggu Perlindungan

Kemenkum Jateng Dorong Pendaftaran IG Batik Girilayu, 105 PUD Karanganyar Menunggu Perlindungan

NYALANUSANTARA, Surakarta – Kanwil Kemenkum Jateng bersama Universitas Sebelas Maret dan Pemerintah Kabupaten Karanganyar menggelar sosialisasi pentingnya Hak Kekayaan Intelektual dan Indikasi Geografis untuk melindungi produk unggulan daerah. Kegiatan itu berlangsung pada Rabu (08/07) di Aula Konimex, Gedung Bachtiar Effendy, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, dan dihadiri akademisi, pelaku UMKM, serta perwakilan pemerintah daerah.

Perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Tengah, Martha Sari Wandoyo selaku Analis Kekayaan Intelektual, menjelaskan bahwa Kekayaan Intelektual merupakan hasil olah pikir manusia yang memiliki nilai ekonomi dan terbagi menjadi KI personal serta KI komunal. KI personal meliputi hak cipta, merek, paten, desain industri, dan Indikasi Geografis, sedangkan KI komunal dimiliki masyarakat atau pemerintah daerah.

“Indikasi Geografis adalah tanda yang menunjukkan asal suatu produk berdasarkan faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi keduanya. Ini menjadi identitas sekaligus perlindungan hukum bagi produk khas suatu daerah,” ujar Martha.

Ia menambahkan, di Jawa Tengah sudah ada tiga batik yang mengantongi sertifikat IG, yaitu Batik Wonogiren, Batik Tulis Lasem, dan Batik Bakaran Pati. Dengan karakteristik yang dimiliki, Batik Girilayu dinilai memiliki potensi besar untuk memperoleh perlindungan serupa guna meningkatkan daya saing dan memperkuat identitas daerah.

“Kemenkum Jateng terus melakukan sosialisasi, pendampingan, dan fasilitasi pendaftaran KI, inventarisasi potensi KI, pembentukan Sentra KI, serta pengembangan Produk Unggulan Daerah. Tujuannya agar masyarakat memahami bahwa KI memberikan kepastian hukum, meningkatkan nilai ekonomi dan daya saing, mendorong inovasi, serta melestarikan budaya masyarakat setempat,” jelasnya.

Ketua LPPM UNS, Prof. I Gusti Ayu Ketut Rachmi Handayani, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian riset nasional mengenai Produk Unggulan Daerah berbasis national tourism. Ia berharap kegiatan ini berdampak luas bagi Karanganyar dan nasional.

“Harapan kami, masyarakat di Kabupaten Karanganyar, khususnya di Girilayu terangkat perekonomiannya sehingga efek domino dari kegiatan ini bisa dirasakan,” ujarnya.

Ia juga menyebut IG menjadi branding untuk masyarakat Girilayu dan mendorong pemerintah daerah meng-cover PUD dalam bentuk IG untuk produk yang memiliki karakteristik unik.

Ketua Tim Peneliti IG Batik Girilayu UNS, Dr. Abdul Kadir Jaelani, mengatakan dalam tiga tahun terakhir pihaknya mendampingi masyarakat pemilik PUD di berbagai tempat. Karanganyar tercatat memiliki 105 jenis PUD. Salah satu permasalahan utama adalah pemahaman tentang pentingnya IG ketika masyarakat ingin berkolaborasi dengan pihak luar atau melakukan ekspor.

“Peran kami sebagai akademisi dan peneliti adalah langkah awal pendampingan. Kami meriset dan harus sesuai dengan Kemenkumham,” katanya.


Editor: Holy

Komentar

Terkini