Lapas Semarang Ajak Mahasiswa UNISVET Memperdalam Ilmu Patologi Sosial Terhadap Napi

Lapas Semarang Ajak Mahasiswa UNISVET Memperdalam Ilmu Patologi Sosial Terhadap Napi

NYALANUSANTARA, Semarang - Lapas Kelas I Semarang menerima studi lapangan dari Universitas Ivet (UNISVET) Semarang dalam rangka meningkatkan pemahaman mata kuliah ilmu patologi sosial di Aula Merdeka pada Kamis (09/07).

34 mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling ikut dalam kegiatan tersebut. Dosen Pengampu mahasiswa, Muhammad Faries mengatakan teknis kegiatan tersebut, mahasiswa akan melakukan observasi dan wawancara dengan warga binaan untuk mencari tahu mengenai fenomena patologi sosial.

“Melalui sesi diskusi dan wawancara, mahasiswa menggali informasi terkait latar belakang sosial warga binaan, kondisi ekonomi, lingkungan pergaulan, tingkat pendidikan, serta faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya tindak pidana,” ucap Faries.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran nyata mengenai berbagai faktor sosial yang dapat mendorong seseorang melakukan pelanggaran hukum serta dampaknya terhadap kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat,” imbuhnya.

Menurut Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan (Bimkemasy) Lapas Semarang, Dena Anggika, kegiatan ini memberikan manfaat positif sebagai sarana memperkenalkan tugas dan fungsi pemasyarakatan kepada kalangan akademisi dan masyarakat.

“Kegiatan tersebut menjadi wadah untuk menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui diskusi yang berlangsung, Lapas memperoleh masukan akademis yang dapat mendukung upaya peningkatan kualitas layanan dan pembinaan warga binaan,” katanya.

“Kehadiran mahasiswa juga memberikan kesempatan bagi kami untuk menunjukkan berbagai program pembinaan kepribadian dan kemandirian yang telah dilaksanakan. Mereka juga dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai sistem pemasyarakatan, sehingga dapat membantu membangun citra positif lembaga serta meningkatkan pemahaman publik terhadap proses pembinaan warga binaan,” jelas Dena

Selain itu, mahasiswa berkesempatan melihat berbagai unit kegiatan kerja seperti batik, anyaman, jahit, bakery, kerupuk, tempe dan laundry. Mereka juga diajak melihat laboratorium mini ketahanan pangan yang merupakan salah satu kegiatan pembinaan kemandirian. Laboratorium mini tersebut menggunakan sistem integrated farming yang menggabungkan 3 sektor dalam satu tempat, yaitu pertanian, perikanan dan peternakan.

preferred sources in Google Searc


Editor: Holy

Komentar

Terkini