Cegah Korupsi MBG, Pemprov Jateng Petakan Ulang Pasokan Pangan dari Hulu

Cegah Korupsi MBG, Pemprov Jateng Petakan Ulang Pasokan Pangan dari Hulu

NYALANUSANTARA, Semarang— Di tengah polemik yang menyeret nama Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memilih jalan pembenahan dari akar masalah. Alih-alih sekadar merespons kritik, Pemprov Jateng kini mengebut pemetaan detail pasokan pangan dari sektor hulu di setiap kabupaten/kota, sebagai benteng utama menutup celah penyimpangan dan korupsi dalam pelaksanaan program tersebut.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengungkapkan, langkah ini berangkat langsung dari arahan Gubernur Ahmad Luthfi. Saat ditemui di kawasan Semarang Selatan, Kota Semarang, Senin (13/7/2026), Gus Yasin—sapaan akrabnya—menjelaskan bahwa pemerintah tengah menghitung ulang kapasitas riil penyedia pangan lokal, mulai dari kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPBG) hingga ketersediaan komoditas seperti telur di tiap wilayah.

"Tadi juga atas saran dari Pak Gubernur, kita harus memetakan per kabupaten kebutuhan SPBG itu berapa, sih? Kapasitasnya telurnya butuh berapa, kita hitung lagi. Dari Jawa Tengah mampu enggak?" ujar Gus Yasin.

Menurutnya, dengan memetakan langsung kebutuhan komoditas seperti telur, ayam, daging, dan ikan dari petani serta peternak lokal, ruang gerak oknum yang ingin menyelewengkan program dapat ditekan seminimal mungkin.

"Kalau Jawa Tengah masih mampu memenuhi kebutuhan itu, ya kita maksimalkan dari daerah sendiri. Kita tarik dulu, kita salurkan. Nah, ini yang harus kita petakan dulu," tambahnya.

Pembenahan tata kelola ini tidak lepas dari polemik yang belakangan ramai di media sosial. Pemicunya adalah pernyataan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Husna Internasional Mayong, Jepara, Ahmad Mudhoffar, yang menyebut MBG "haram" lantaran menilai program ini dari hulu ke hilir sarat praktik korupsi. Pernyataan tersebut menyebar luas lewat video di akun @infokejadianjepara.

Menanggapi hal itu, Gus Yasin mengaku menghormati kritik yang berkembang, namun mengajak masyarakat untuk memisahkan antara tujuan mulia program dengan perilaku menyimpang segelintir oknum.

"Saya menghormati. Tetapi ini harus dikembangkan (dikaji) lagi. Karena tujuan MBG untuk apa? Makanan bergizi, meningkatkan gizi masyarakat, meningkatkan gizi anak-anak yang mungkin kita dapati mereka ketika sekolah keterbatasan finansial," urainya.

"Permasalahan korupsi atau penyimpangan itu yang harus dibenahi," tegasnya.

Gus Yasin tidak menampik bahwa dalam kaidah agama, turut membantu tindakan yang dilarang memang tidak dibenarkan. Namun ia mengingatkan, esensi MBG adalah pemenuhan nutrisi bagi kelompok rentan—masyarakat miskin, ibu hamil, hingga anak sekolah yang terkendala kondisi finansial.

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini