Krisis Air Bertahun-tahun Berakhir, Warga Kutabawa Purbalingga Kini Cukup Putar Keran

Krisis Air Bertahun-tahun Berakhir, Warga Kutabawa Purbalingga Kini Cukup Putar Keran

NYALANUSANTARA, Purbalingga— Penantian panjang warga Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, terhadap air bersih akhirnya berakhir. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) resmi mengakhiri krisis air yang membelit desa tersebut selama bertahun-tahun melalui pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Kini, warga tak perlu lagi bersusah payah mencari air—cukup memutar keran, air bersih pun mengalir ke rumah masing-masing.

Program yang dibangun Pemprov Jateng pada 2026 ini telah melayani 97 kepala keluarga yang sebelumnya kesulitan mengakses air bersih.

Sebelum SPAM hadir, air bersih menjadi persoalan yang tak pernah lepas dari keseharian warga Kutabawa. Saat musim kemarau, mereka mengandalkan tampungan air hujan. Ketika persediaan habis, warga terpaksa membeli air dari mobil tangki—itu pun harus menunggu tiga hingga empat hari karena penyedia tangki kewalahan memenuhi permintaan.

Kepala Desa Kutabawa, Budiyono, menjelaskan kesulitan air semakin parah setelah bencana banjir bandang sekitar lima bulan lalu merusak jaringan pipa yang selama ini menyalurkan air dari sumber di Desa Serang.

"Sebelum ada bencana, air bersih kami ambil dari desa sebelah. Setelah terjadi bencana, pipanya hilang sehingga distribusi air terputus," kata Budiyono, Rabu (15/7/2026).

Beban ekonomi warga pun kian berat. Sebagian besar warga Kutabawa menggantungkan hidup dari sektor pertanian, namun mereka harus merogoh kocek Rp500 ribu hingga lebih dari Rp1 juta setiap bulan hanya untuk membeli air bersih.

Salah satu warga, Nur Rahman, merasakan betul beratnya kondisi tersebut. Sebelum jaringan perpipaan dibangun, keluarganya harus membeli dua tangki air setiap bulan dengan biaya sekitar Rp250 ribu per tangki. Jika tak mampu membeli, mereka terpaksa berjalan kaki tiga hingga empat kilometer demi mendapatkan air bersih.

"Dulu kami sangat kesulitan air bersih. Kalau tidak beli, ya harus jalan kaki sekitar tiga sampai empat kilometer. Sekarang alhamdulillah air bersih sudah mengalir sampai rumah-rumah warga," ucapnya.

Budiyono menambahkan, persoalan air bersih di Kutabawa sebenarnya sudah berlangsung sangat lama. Berbagai upaya sempat dilakukan, termasuk pengeboran sumur hingga kedalaman 105 meter, namun sumber air tak kunjung ditemukan.

Kehadiran SPAM membawa perubahan signifikan bagi keuangan warga. Pengeluaran yang dulu mencapai Rp500 ribu hingga lebih dari Rp1 juta per bulan kini menyusut menjadi hanya sekitar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu untuk iuran perawatan jaringan.

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini