Soroti Objek Diduga Cagar Budaya Semarang, Monumen Ingatan Gelar Pemutaran Film dan Diskusi Bong Pay
NYALANUSANTARA, Semarang - Pada hari ke-5 Monumen Ingatan: Risalah Kota mengadakan pemutaran Film Dokumenter Bong Pay (makam dan nisan tionghoa) dan Risalah Kota beserta diskusi publik di Edmund Coffee and Meals yang akan dibawakan oleh Philippus Dellian Agus Raharjo, Purna Cipta Nugraha, dan moderator Irawati Febby Ardyanti.
Film Dokumenter Bong Pay yang diputarkan terdiri dari gabungan klip-klip dokumentasi riset Bong Pay. Nantinya, riset ini akan dikirimkan ke Dapobud (Data Pokok Kebudayan) sebagai upaya untuk mengurusi dan melestarikan Bong Pay, salah satu ODCG (Objek Diduga Cagar Budaya) yang penting di Semarang.
Riset Bong Pay Semarang adalah kolaborasi skill antara Philippus Dellian Agus Raharjo, Bram Luska, dan Kolektif Hysteria. Philippus berkontribusi dalam menafsirkan teks dan epigrafi Bong Pay yang tidak bisa diterjemahkan secara literal, Bram membaca silsilah keluarga yang tertera dalam Bong Pay, sementara Kolektif Hysteria yang mengkurasi hasil dokumentasi riset Bong Pay.
Philippus mengakui mengalami sempat mengalami kesulitan saat membaca salah satu tarikh Bong Pay karena beberapa aksara yang digunakan di Bong Pay tersebut sudah tidak dipakai lagi, namun akhirnya terbantu oleh temuan informasi aksara dari situs web Taiwan.
Untuk memetakan lokasi dan posisi Bong Pay, Philippus dan Bram menggunakan arsip Belanda, literatur sejarah, dan koneksi sejarawan dan akademisi yang kebanyakan juga berdomisili di Belanda, seperti Peter Post dan Dr. Bei.
Namun arsip Belanda tersebut tidak mencatat keseluruhan lokasi Bong Pay di Semarang. Salah satu dari kompleks pemakaman yang tidak tercatat dalam arsip Belanda tahun 1800-an, namun dapat ditemukan melalui tapak tilas adalah kompleks pemakaman Bergota.
Riset Bong Pay tersebut juga membuat Philippus dan Bram dapat melihat potensi wisata untuk menggerakkan perekonomian warga setempat. “Walaupun masih memerlukan waktu, karena cukup sulit ya untuk memaknai teks di Bong Pay, tapi ada potensi Walking Tour Bong Pay supaya masyarakat yang tinggal di lokasi pemakaman nggak kepikiran untuk membongkar makam, karena makam itu jadi ladang perekonomian buat mereka. Kang Parkir dan penjual jajanan di sekitar makam juga bisa terbantu kalau banyak pengunjung yang akan datang.” Kata Philipus.
Terdapat juga penuturan jenaka dari Purna Cipta Nugraha, kurator proyek riset Bongpay, yang berkaitan dengan upaya pemindahan Bong Pay di STTB (Sekolah Tinggi Teologia Baptis). “Bong Pay di Seminari STTB itu 2x ingin dipindahkan dan 2x pula orang yang ditugaskan buat memindahkan itu sakit,” ungkapnya.
Selain bertujuan untuk memetakan lokasi-lokasi Bong Pay di Semarang, riset ini dilakukan untuk menambah perspektif dan pengetahuan terkait sejarah orang tionghoa di masa lampau.
“Dari membaca literatur-literatur sejarah, saya menemukan ada pengusaha tionghoa namanya Oei Tiong Ham yang sudah mempekerjakan orang-orang yang benar-benar ahli di bidangnya ketika pengusaha lain masih mempekerjakan anggota keluarga. Kita juga bisa mengetahui kalau orang tionghoa di masa hindia belanda dulu butuh membawa surat pas atau kartu pas kemana-mana saat berpergian supaya nggak ditangkap,” jelas Bram.
Editor: Holy
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang - Semangat menyambut Hari Ulang Tahun…
NYALANUSANTARA, Semarang – Dalam rangka memperingati Hari Ulang…
NYALANUSANTARA, Semarang - Semangat kemerdekaan Indonesia mulai terasa…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Drama KBS 2TV “Love on the Menu”…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Ferrari memperkenalkan CZ26, supercar eksklusif yang dibuat…
NYALANUSANTARA, DEPOK- Lamborghini resmi memperkenalkan Revuelto Super Veloce (SV),…
NYALANUSANTARA, TANGGERANG- Aston Martin memperkenalkan tiga unit khusus DB12…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Festival Arak-Arakan Cheng Ho 2026 menampilkan kirab…
NYALANUSANTARA, KEDIRI- Toyota memperkenalkan Aero Black Edition sebagai paket…
Semarang – Suasana riang mewarnai kunjungan Wali Kota…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Film asal Tiongkok "Dear You", yang mengangkat…

Komentar