Indonesia Ingin Belajar Integrasi AI dari China, Badri Munir Soroti Pentingnya Kolaborasi Pendidikan ASEAN
XINHUA
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN (China-ASEAN Education Cooperation Week) 2026 resmi dibuka di Guiyang, Provinsi Guizhou, China barat daya. Mengusung tema "Memanfaatkan Pendidikan Cerdas, Membangun Tanah Air yang Bersahabat", ajang ini menjadi wadah bagi negara-negara ASEAN dan China untuk memperkuat kolaborasi pendidikan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Lebih dari 450 pejabat pendidikan, akademisi, ilmuwan, serta perwakilan industri dari China dan negara-negara ASEAN hadir dalam forum tersebut. Mereka membahas pemanfaatan AI untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus mempererat kerja sama regional.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Badri Munir Sukoco, menghadiri acara tersebut untuk pertama kalinya. Ia menilai China telah menjadi salah satu negara terdepan dalam membangun ekosistem pendidikan dan industri AI yang terintegrasi.
Menurut Badri, Indonesia ingin memanfaatkan forum tersebut untuk mempelajari pengalaman China dalam mengembangkan kurikulum AI, meningkatkan kompetensi tenaga pengajar, hingga membangun kapasitas komputasi yang merata di berbagai wilayah.
Selain itu, Indonesia juga mendorong kerja sama dengan negara-negara ASEAN dalam memperkuat transformasi digital melalui kolaborasi AI di tingkat perguruan tinggi. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem kecerdasan digital kawasan yang inklusif dan saling menguntungkan.
Dalam kunjungan pertamanya ke Guizhou, Badri mengaku terkesan dengan perkembangan industri digital di provinsi yang berada di wilayah pedalaman China tersebut. Ia menilai keberhasilan Guizhou membangun pusat industri big data membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya dapat berkembang di kota-kota pesisir.
"Saya cukup terkejut melihat bagaimana Guizhou berhasil menjadi pusat big data nasional meskipun letaknya jauh dari kawasan industri teknologi di pesisir. Ini menunjukkan adanya pemerataan pembangunan yang sangat baik," ungkapnya.
Badri mengakui perkembangan pendidikan digital dan industri AI di Indonesia masih berada di bawah China. Karena itu, pengalaman Guizhou dalam membangun sektor big data dinilai dapat menjadi contoh bagi berbagai daerah di Indonesia yang telah menerapkan sistem desentralisasi.
Ia juga menyoroti peluncuran model AI untuk pengobatan tradisional China (Traditional Chinese Medicine/TCM) serta laboratorium AI yang mengintegrasikan dunia pendidikan, penelitian, dan industri. Menurutnya, China memiliki rantai industri AI yang sangat lengkap sehingga membuka peluang besar untuk memperkuat kolaborasi dengan Indonesia.
Badri menilai kerja sama kedua negara dapat saling melengkapi. Selain mempelajari pengembangan AI, Indonesia juga memiliki potensi sumber daya alam, termasuk pengobatan tradisional dan mineral tanah jarang (rare earth), yang dapat dikembangkan bersama melalui dukungan teknologi AI dari China.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang – Polda Jateng menggelar Upacara Bendera…
NYALANUSANTARA, Semarang - Semangat menyambut Hari Ulang Tahun…
NYALANUSANTARA, Semarang – Dalam rangka memperingati Hari Ulang…
NYALANUSANTARA, Semarang - Semangat kemerdekaan Indonesia mulai terasa…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Drama KBS 2TV “Love on the Menu”…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Ferrari memperkenalkan CZ26, supercar eksklusif yang dibuat…
NYALANUSANTARA, DEPOK- Lamborghini resmi memperkenalkan Revuelto Super Veloce (SV),…
NYALANUSANTARA, TANGGERANG- Aston Martin memperkenalkan tiga unit khusus DB12…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Festival Arak-Arakan Cheng Ho 2026 menampilkan kirab…
NYALANUSANTARA, KEDIRI- Toyota memperkenalkan Aero Black Edition sebagai paket…
Semarang – Suasana riang mewarnai kunjungan Wali Kota…

Komentar