Indonesia Ingin Belajar Integrasi AI dari China, Badri Munir Soroti Pentingnya Kolaborasi Pendidikan ASEAN

Indonesia Ingin Belajar Integrasi AI dari China, Badri Munir Soroti Pentingnya Kolaborasi Pendidikan ASEAN

XINHUA

"China jauh lebih maju dalam pengembangan AI. Kami ingin belajar lebih banyak sekaligus memperluas kolaborasi agar kedua negara memperoleh manfaat bersama," ujarnya.

Meski demikian, Badri mengingatkan bahwa AI merupakan teknologi yang memiliki dua sisi. Di satu sisi mampu meningkatkan produktivitas dan inovasi, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan seperti penyebaran disinformasi, deepfake, hingga doxxing.

Karena itu, ia menilai reformasi pendidikan tinggi menjadi langkah penting agar mahasiswa maupun tenaga pendidik mampu memahami, memanfaatkan, sekaligus mengantisipasi dampak negatif AI.

Menurutnya, pembelajaran di perguruan tinggi tidak lagi cukup bergantung pada buku teks. Kurikulum, metode pembelajaran, hingga sistem evaluasi harus diperbarui agar selaras dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Indonesia, lanjut Badri, ingin mempelajari bagaimana China berhasil mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum pendidikan secara menyeluruh, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri.

Ia berharap semakin banyak perguruan tinggi Indonesia yang berpartisipasi dalam Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN pada tahun mendatang, terutama dalam bidang pendidikan AI dan pengembangan teknologi digital.

Dalam forum tersebut juga dijadwalkan penandatanganan sejumlah nota kesepahaman antara perguruan tinggi Indonesia dengan Universitas Guizhou dan Institut Teknologi Guizhou. Kerja sama tersebut mencakup pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, serta riset bersama di bidang kecerdasan buatan.

Badri menegaskan bahwa kepercayaan menjadi fondasi utama keberhasilan kerja sama internasional. Menurutnya, forum seperti Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN memberikan kesempatan bagi seluruh pihak untuk bertemu secara langsung, berbagi perkembangan terbaru, serta memperluas kolaborasi di bidang AI.

Sepulang dari China, Badri berencana menyampaikan berbagai pengalaman yang diperolehnya kepada mahasiswa dan pimpinan perguruan tinggi di Indonesia. Ia berharap semangat China dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan nasional.

Ia menambahkan, kerja sama AI antara China dan ASEAN bukan sekadar transfer teknologi satu arah, melainkan kemitraan yang saling melengkapi. China memiliki keunggulan pada teknologi, algoritma, dan kapasitas komputasi, sementara negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki sumber daya alam yang melimpah serta bonus demografi yang besar. Perpaduan kekuatan tersebut diyakini mampu menciptakan ekosistem AI regional yang inklusif sekaligus memperkuat hubungan antara China dan negara-negara ASEAN.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini