KEK Batang Didorong Menjadi Kawasan Industri Hijau Berdaya Saing Global

KEK Batang Didorong Menjadi Kawasan Industri Hijau Berdaya Saing Global

NYALANUSANTARA, Semarang– Transformasi Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Industropolis Batang menuju kawasan industri hijau membutuhkan investasi, teknologi bersih, pembiayaan berkelanjutan, sumber daya manusia kompeten, serta manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat sekitar.

Arah transformasi tersebut dibahas dalam diskusi terpumpun multipihak bertajuk “Diplomasi Dekarbonisasi yang Berdaya Ungkit: Merumuskan Strategi Kemitraan Transformatif di KEK Industropolis Batang” pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Forum yang berlangsung di Gedung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Semarang ini diselenggarakan oleh Synergy Policies bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Kegiatan tersebut mendapat dukungan ViriyaENB serta melibatkan ISEI Pusat dan ISEI Semarang.

Pertemuan ini menghadirkan unsur pemerintah pusat dan daerah, Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus, pengelola KEK Industropolis Batang, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, APINDO, perguruan tinggi, organisasi profesi, dunia usaha, dan lembaga kebijakan.

Forum diarahkan untuk merumuskan langkah nyata menuju Eco-Industrial Park atau kawasan industri berwawasan lingkungan. Pembahasan mencakup kerja sama internasional, penggunaan energi bersih, transfer teknologi, pembiayaan hijau, penguatan rantai pasok, serta pelibatan masyarakat di sekitar kawasan.

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNNES, Prof. Dr. Zaenuri, M.Si., Akt., menyampaikan sambutan selamat datang mewakili UNNES sebagai tuan rumah.

Rangkaian pembukaan juga diisi oleh Senior Advisor Synergy Policies Dr. Marzuki Darusman, Direktur Jenderal sekaligus Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri RI Muhammad Takdir, serta Ketua Bidang III Pengurus Pusat ISEI Dr. Aida S. Budiman sebagai pembicara utama.

Direktur Eksekutif Synergy Policies Dinna Prapto Raharja, Ph.D., mengarahkan pembahasan pada empat kebutuhan utama. Kebutuhan tersebut meliputi penguatan kerja sama Indonesia dan Tiongkok melalui skema Two Countries Twin Parks atau TCTP, pemetaan energi bersih, integrasi rantai pasok dan transfer teknologi beserta pembiayaannya, serta pelibatan masyarakat sekitar.

Skema TCTP dinilai dapat memperkuat hubungan antara kawasan industri Indonesia dan Tiongkok. Kerja sama ini tidak hanya diarahkan untuk menarik investasi, tetapi juga mendorong penggunaan teknologi hijau dan meningkatkan kualitas industri nasional.

Investasi, Teknologi Bersih, dan Manfaat bagi Masyarakat
Anggota Komisi XI DPR RI, Dr. H. Musthofa, S.E., M.M., mengawali pemaparan substantif dengan materi bertajuk “Stabilitas Investasi dan Daya Saing”.

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini