KEK Batang Didorong Menjadi Kawasan Industri Hijau Berdaya Saing Global

KEK Batang Didorong Menjadi Kawasan Industri Hijau Berdaya Saing Global

KEK Batang juga mulai memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya untuk mendukung Network Operation Center dan penerangan jalan.

Dari sisi pengelolaan limbah, kawasan memiliki instalasi pengolahan air limbah terintegrasi dengan kapasitas 18.000 meter kubik per hari. Infrastruktur itu didukung jaringan perpipaan sepanjang sekitar 18 kilometer.

Selain itu, kawasan telah memiliki tempat pengolahan sampah terpadu dengan kapasitas mencapai 35 ton per hari.

Meski demikian, Yusmanto menekankan bahwa transformasi menuju Eco-Industrial Park harus dilakukan secara terukur dan konsisten. Perkembangan kawasan perlu dinilai melalui empat dimensi utama, yaitu pengelolaan kawasan, lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Perwakilan ISEI Pusat sekaligus Wakil Ketua Dewan Pimpinan Nasional APINDO, Dr. Arief Budiman, menyoroti kesiapan industri dalam menjalankan transisi menuju teknologi bersih.

Menurutnya, proyek hijau membutuhkan data terverifikasi, standar yang diakui pasar tujuan, data dasar yang jelas, serta sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi atau measurement, reporting, and verification.

Seluruh unsur tersebut diperlukan agar proyek dapat melewati proses uji tuntas dan memperoleh pembiayaan.

“Batang tidak kekurangan modal. Batang kekurangan bukti,” kata Arief.

Pernyataan itu menegaskan bahwa ketersediaan dana belum cukup untuk menjamin keberhasilan transformasi. Investor dan lembaga pembiayaan membutuhkan proyek yang layak secara teknis, memiliki data kuat, dan menawarkan hasil yang dapat diukur.

Arief mengusulkan pembentukan fasilitas penyiapan proyek Batang. Fasilitas tersebut dapat membantu menyiapkan proyek bersama di dalam kawasan agar memenuhi persyaratan teknis dan pembiayaan.

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini