Wamen PU Tantang Mahasiswa UNDIP Ciptakan Solusi Nyata untuk Masyarakat

Wamen PU Tantang Mahasiswa UNDIP Ciptakan Solusi Nyata untuk Masyarakat

NYALANUSANTARA, Semarang – Memasuki dunia perguruan tinggi bukan sekadar berpindah dari bangku sekolah ke ruang kuliah. Ada tanggung jawab baru yang ikut tumbuh yakni menjadi pribadi berilmu, berkarakter, dan dapat dipercaya. Pesan tersebut mengemuka dalam Kuliah Tamu Wakil Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, Ir. Diana Kusumastuti, M.T., yang berlangsung di Gedung Serbaguna Muladi Dome, Kampus UNDIP Tembalang, pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Kuliah umum bertajuk “Membangun Generasi Berintegritas melalui Nilai-Nilai Pancasila dan Budaya Antikorupsi” menjadi bagian penting dalam Sidang Terbuka Senat Akademik pada Penerimaan Mahasiswa Baru UNDIP Tahun Akademik 2026/2027 Tahap III. Di hadapan 4.950 Dipo Muda, Diana menyampaikan selamat atas keberhasilan mereka bergabung dengan keluarga besar UNDIP. Ia mengingatkan, hari pertama kuliah bukan sekadar memulai perjalanan akademik, tetapi pijakan membentuk karakter, kepemimpinan, dan integritas sebagai calon pemimpin bangsa. Ia menegaskan kecerdasan tanpa kejujuran, tanggung jawab dan keberanian menjaga prinsip tidak akan memberi makna.

Kehadiran Diana di UNDIP terasa istimewa. Ia kembali ke kampus yang pernah membentuk langkah awal kariernya sebagai alumnus Departemen Arsitektur Fakultas Teknik. Kini, ia juga tengah menempuh studi doktoral di almamater yang sama. Pengalaman lebih dari tiga dekade berkarier di Kementerian Pekerjaan Umum memperkaya perspektifnya tentang makna pendidikan yang tidak berhenti pada teori, melainkan membentuk cara berpikir dan kepekaan terhadap persoalan bangsa.

Menurut Diana, pembangunan juga tidak dapat diukur hanya dari banyaknya infrastruktur yang berdiri secara fisik. Jalan, gedung, sistem penyediaan air, maupun fasilitas publik harus menghadirkan manfaat nyata, meningkatkan kualitas hidup, dan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Prinsip yang sama berlaku pada pendidikan di mana ilmu akan semakin bernilai ketika disertai karakter kejujuran, tanggung jawab, serta semangat pengabdian.

Ia mengajak mahasiswa memahami budaya antikorupsi dari hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, korupsi tidak selalu bermula dari perkara besar. Sikap permisif terhadap pelanggaran kecil, mendahulukan kedekatan daripada aturan, menyontek, atau memilih diam ketika mengetahui sesuatu yang keliru dapat menjadi awal lunturnya integritas.

“Integritas dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Datang tepat waktu, tidak menyontek, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, berani berkata benar, dan menolak sesuatu yang tidak semestinya, sekecil apa pun itu,” pesannya.

Bagi Diana, transparansi, akuntabilitas, dan inovasi adalah fondasi utama untuk menutup ruang gerak praktik korupsi. Di titik ini, mahasiswa punya peran strategis sebagai penggerak perubahan. Berbekal kedekatan dengan teknologi dan adaptabilitas yang tinggi, generasi muda mampu menghadirkan terobosan baru dalam memperkuat sistem pengawasan dan keterbukaan publik. “Teknologi perlu digunakan untuk memperbaiki sistem dan memberi manfaat, bukan justru membuka ruang penyalahgunaan,” tegas Wamen PU.

Menuju Indonesia Emas 2045, ia mengingatkan mahasiswa bahwa kemajuan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh gedung megah, transportasi terintegrasi, atau kecanggihan teknologi. Kualitas manusia yang mengelola dan memimpin jauh lebih menentukan. Karena itu, kecerdasan akademik perlu berjalan beriringan dengan integritas profesionalisme, dan keberanian berdiri di sisi yang benar. “Pribadi yang pintar tanpa integritas akan menjadi ancaman. Sebaliknya, integritas yang kuat membuat ilmu pengetahuan memberi manfaat sebesar-besarnya,” ujarnya.

Ia pun menantang mahasiswa UNDIP untuk tidak ragu menciptakan solusi konkret. Riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat perlu difokuskan menjawab persoalan riil di lapangan, termasuk tantangan pembangunan yang berkelanjutan. Kolaborasi erat antara dunia akademis dan pemerintah, seperti hubungan Kementerian PU dan UNDIP, menjadi krusial dalam mencetak SDM yang siap menghasilkan gagasan relevan dan berdampak luas.

Mengakhiri arahannya, Diana juga mengajak mahasiswa menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai kompas dalam setiap langkah, sementara budaya antikorupsi dimulai dari keputusan sederhana yang dilakukan secara konsisten. “Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang dapat dipercaya,” tegasnya. Pesan ini menjadi pengingat bahwa perjalanan di kampus bukan hanya mengejar gelar, melainkan menyiapkan diri untuk menjadi generasi unggul yang memberi manfaat nyata bagi bangsa.

preferred sources in Google Searc


Editor: Admin

Terkait

Komentar

Terkini