Kemarau Panjang di Boyolali dan Grobogan, Dompet Dhuafa Salurkan Air Bersih ke Warga Terdampak
NYALANUSANTARA, Boyolali– Kemarau panjang mulai menekan kehidupan warga di Dukuh Joho, Desa Sambeng, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali. Bukan hanya persediaan air bersih yang terus menyusut, aktivitas pertanian, peternakan, hingga pendapatan warga ikut terdampak.
Hingga Senin (10/8/2026), warga masih harus berjuang memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Mayoritas masyarakat Dukuh Joho bekerja sebagai petani jagung dan peternak domba maupun sapi, dua sektor yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
Kondisi tersebut semakin berat karena kemarau juga menghentikan aktivitas di ladang. Sebagian warga tidak dapat melanjutkan musim tanam, sementara tenaga yang biasanya digunakan untuk bekerja harus dialihkan untuk mencari air bersama anggota keluarga.
“Karena kekeringan di ladang mereka, yang kedua tidak bisa menanam lagi, kemudian yang pekerja itu ikut istrinya mencari air. Jadi dampak spesifiknya masalah perekonomian warga karena terdampaknya kekeringan, sedangkan warga membantu para istrinya mencari air juga demi memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Dai Pemberdaya Dompet Dhuafa Jawa Tengah, Nur Cholis.
Bagi petani Dukuh Joho, kemarau juga membuat persiapan musim tanam berikutnya penuh ketidakpastian. Sebagian besar warga menggarap lahan milik Perhutani untuk menanam jagung dengan biaya sewa sekitar Rp1,3 juta setiap musim panen atau per tahun.
Ketika hujan tidak kunjung turun, biaya yang telah dikeluarkan harus berhadapan dengan risiko gagal tanam maupun menurunnya hasil pertanian. Situasi itu membuat dampak kekeringan tidak hanya dirasakan dari sisi kebutuhan air, tetapi juga langsung menyentuh penghasilan keluarga.
Kesulitan mendapatkan air bersih sudah dirasakan warga sejak beberapa bulan terakhir. Menurut Nur Cholis, hujan tidak turun sejak Mei sehingga sumber air di sekitar permukiman mulai mengering.
“Sejak Mei sudah tidak ada hujan, warga sudah mencari air bersih di sungai yang mengering. Dibuatlah sumur kecil demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka,” ujarnya.
Sungai yang telah kehilangan aliran air justru menjadi salah satu harapan terakhir warga. Mereka menggali lubang menyerupai sumur di dasar sungai untuk mendapatkan rembesan air yang muncul dari dalam tanah.
Untuk mencapai titik tersebut, warga Dukuh Joho harus menempuh jarak sekitar 500 meter hingga satu kilometer. Sebagian menggunakan sepeda motor untuk mengangkut jeriken, sementara warga lainnya memilih berjalan kaki membawa wadah air.
Editor: Redaksi
Terkait
NYALANUSANTARA, Semarang– Jelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah,…
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang — Genap satu tahun hadir sebagai…
NYALANUSANTARA, Semarang - Menteri Hukum Supratman Andi Agtas…
NYALANUSANTARA, Sukoharjo – Kanwil Kemenkum Jateng bekerja sama…
Semarang — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mendorong…
Semarang — Hujan yang mengguyur kawasan Tempat Pemrosesan…
NYALANUSANTARA, Semarang – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng…
NYALANUSANTARA, Jember – Inovasi kendaraan hemat energi Universitas…
NYALANUSANTARA, Temanggung – Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui Lembaga…
NYALANUSANTARA, Semarang – Memperkuat langkah menuju World-Class University,…
NYALANUSANTARA, Magelang - Kecelakaan melibatkan dua unit truk…
NYALANUSANTARA, Semarang – Dewan Penyantun Pendidikan Universitas Negeri…

Komentar