Mahasiswa IPB Ubah Limbah Lokal Jadi Solusi Petani Sokatengah Tekan Biaya Produksi

Mahasiswa IPB Ubah Limbah Lokal Jadi Solusi Petani Sokatengah Tekan Biaya Produksi

NYALANUSANTARA, Slawi– Di tengah tantangan kenaikan biaya produksi pertanian dan peternakan, masyarakat Desa Sokatengah, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, mendapat alternatif solusi dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Institut Pertanian Bogor (IPB).

Melalui pemanfaatan bahan yang selama ini mudah ditemukan di sekitar desa, mahasiswa mengenalkan teknologi sederhana yang dapat membantu petani dan peternak lebih mandiri. Mulai dari daun pepaya yang diolah menjadi pestisida nabati, kotoran sapi menjadi pupuk organik cair, hingga ampas tahu yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak fermentasi.

Program tersebut dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi langsung di empat wilayah Desa Sokatengah, yakni RW 2 Dukuh Krajan pada 19 Juli 2026, RW 1 Dukuh Malar pada 21 Juli 2026, RW 4 Dukuh Senggang pada 24 Juli 2026, dan RW 3 Dukuh Bebek pada 31 Juli 2026.

Sebanyak 104 petani dan peternak mengikuti kegiatan tersebut untuk mempelajari cara mengolah potensi lokal menjadi produk yang bermanfaat bagi usaha mereka.

Program KKN-T IPB ini berangkat dari kondisi yang dihadapi masyarakat, seperti meningkatnya harga pupuk, keterbatasan akses terhadap sarana produksi, serta masih tingginya penggunaan pestisida kimia dalam kegiatan pertanian.

Padahal, Desa Sokatengah memiliki berbagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Limbah peternakan berupa kotoran sapi, limbah industri tahu berupa ampas tahu, hingga bahan alami di sekitar rumah dapat diolah menjadi produk pendukung pertanian dan peternakan.

“Potensi yang ada di sekitar desa sebenarnya bisa dimanfaatkan. Tinggal bagaimana masyarakat mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengolahnya,” menjadi dasar kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN-T IPB.

Dalam bidang pertanian, mahasiswa memperkenalkan dua inovasi, yakni bumbung parasitoid dan pestisida nabati berbahan daun pepaya.

Melalui praktik langsung, petani dikenalkan dengan konsep pengendalian hama secara alami menggunakan parasitoid sebagai musuh alami tanaman pengganggu. Cara tersebut dinilai lebih ramah lingkungan karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.

Selain itu, mahasiswa juga mengajarkan pembuatan pestisida nabati menggunakan bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Sri, salah satu peserta kegiatan, mengaku tertarik untuk segera mencoba metode tersebut di lahannya.

“Habis ini mau langsung saya praktikkan,” ujarnya setelah mengikuti demonstrasi pembuatan bumbung parasitoid.

Tidak hanya membantu petani, mahasiswa juga menyasar sektor peternakan melalui pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) dari kotoran sapi.

Selama ini, kotoran sapi masih sering dianggap sebagai limbah yang belum memiliki nilai tambah. Melalui pengolahan yang tepat, limbah tersebut dapat menjadi pupuk yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas tanah dan tanaman.

Peserta diajak melihat langsung proses pembuatan POC, mulai dari tahap pengolahan bahan hingga cara penggunaannya pada tanaman.

Di sektor peternakan, mahasiswa memperkenalkan teknologi pembuatan silase berbahan ampas tahu. Inovasi ini disesuaikan dengan kondisi Desa Sokatengah yang memiliki sejumlah industri tahu rumahan.

Ampas tahu yang sebelumnya hanya menjadi limbah dapat diolah melalui proses fermentasi menjadi pakan ternak yang lebih tahan lama. Teknologi ini menjadi solusi ketika ketersediaan hijauan pakan mulai berkurang.

Dalam demonstrasi tersebut, peternak juga belajar mengenali ciri-ciri silase yang berhasil dibuat, termasuk perubahan aroma dan karakteristik pakan.

Anwar, salah satu peternak Desa Sokatengah, mengaku mendapatkan pengalaman baru dari kegiatan tersebut.

“Oh, baunya asam-manis ya kalau sudah jadi. Saya baru tahu,” tuturnya.

Ketua RW 02 Desa Sokatengah, Chozin, mengapresiasi kehadiran mahasiswa KKN-T IPB. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat karena tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membekali masyarakat dengan pengetahuan yang dapat diterapkan secara mandiri.

“Terima kasih mahasiswa KKN. Berkat bantuan dan ilmu yang dibagikan, warga kami menjadi terbantu karena mengetahui solusi untuk menyelesaikan beberapa tantangan di bidang pertanian dan peternakan,” ujarnya.

Koordinator Desa KKN-T IPB di Desa Sokatengah, Mochamad Azril Vadila, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar masyarakat tidak hanya mengenal teknologi baru, tetapi juga mampu mengembangkan dan menerapkannya secara mandiri.

Menurutnya, pemanfaatan sumber daya lokal menjadi langkah penting untuk membantu masyarakat mengurangi biaya usaha sekaligus meningkatkan efisiensi dalam bertani dan beternak.

“Semoga praktik hari ini dapat membantu meringankan biaya usaha tani dan menghemat tenaga dalam beternak,” pungkasnya.

Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-T IPB berharap masyarakat Desa Sokatengah dapat terus mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal. Dengan begitu, sektor pertanian dan peternakan desa dapat tumbuh lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan.
 

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini