Workshop Kaligrafi Tiongkok Kenalkan Seni, Filosofi, dan Latihan Kesabaran
ISTIMEWA
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Seni kaligrafi Tiongkok tidak hanya berkaitan dengan keindahan tulisan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai sejarah, filosofi, keseimbangan, dan kedisiplinan. Nilai tersebut diperkenalkan dalam workshop “Seni Kaligrafi Tiongkok Bersama Sheren” yang digelar di Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI), Jakarta Utara, pada Minggu, 2 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut dipandu Sheren, pengajar sekaligus kreator konten kaligrafi China. Workshop dirancang untuk masyarakat yang ingin mengenal kaligrafi mulai dari dasar hingga mampu menghasilkan karya sendiri. Peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga berlatih memegang kuas, membuat berbagai jenis goresan, menyusun karakter, serta memahami makna di balik tulisan.
Menurut Sheren, kegiatan tersebut digelar setelah banyak pengikutnya di Instagram dan TikTok meminta adanya pembelajaran kaligrafi secara langsung. Meningkatnya ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap budaya Tionghoa turut mendorongnya membuka ruang belajar yang memadukan teori dan praktik.
Workshop ini terbuka bagi masyarakat berusia minimal 12 tahun yang memiliki ketertarikan untuk belajar. Pada pelaksanaan kali ini, sembilan peserta hadir dari total 10 kuota yang tersedia. Menariknya, mayoritas peserta yang mendaftar berasal dari kalangan ibu berusia sekitar 30 hingga 50 tahun.
Dalam proses pembelajaran, peserta diperkenalkan dengan Wénfángsìbǎo atau “Empat Harta Karun” dalam kaligrafi China, yakni Máobǐ atau kuas, Mò sebagai tinta, Xuānzhǐ sebagai kertas Xuan, serta Yàntái atau batu tinta.
Sheren mengatakan kelas tersebut memang ditujukan bagi pemula yang belum memiliki pengalaman sama sekali. Peserta diajak memulai dari teknik paling dasar agar setiap orang dapat mengikuti latihan tanpa harus memiliki kemampuan sebelumnya.
Menurutnya, kaligrafi China bukan sekadar aktivitas menulis dengan indah. Seni tersebut merupakan tradisi yang telah berkembang selama ribuan tahun dan menggabungkan teknik, bentuk, keseimbangan, serta karakter penulis dalam setiap goresannya.
Salah satu tantangan utama bagi pemula adalah membangun kesabaran. Peserta harus terbiasa menggunakan kuas, bukan pena atau pensil, sekaligus belajar mengendalikan ketebalan dan kelembutan garis. Mereka juga perlu memahami struktur, keseimbangan, dan komposisi setiap karakter.
Dalam workshop tersebut, Sheren memperkenalkan gaya Kăishū yang menjadi salah satu gaya dasar dalam pembelajaran kaligrafi karena bentuk karakternya relatif familiar. Peserta terlebih dahulu berlatih membuat garis horizontal dan vertikal untuk melatih kestabilan serta kontrol terhadap kuas sebelum memasuki tahap penulisan karakter.
Ketertarikan peserta mengikuti kegiatan tersebut cukup beragam. Ada yang ingin mempelajari cara menulis Hanzi dengan indah, mengenal budaya China, hingga memperluas keterampilan dari hobi brush lettering.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, Ungaran – Kasus penemuan bayi Perempuan di…
NYALANUSANTARA, Semarang – Grebeg Subali 2026 kembali digelar…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kanwil Kemenkum Jateng menggelar Rapat…
NYALANUSANTARA, Serang – Kementerian Hukum (Kemenkum) kembali melibatkan…
Semarang — Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI…
NALANUSANTARA, Pati- Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi merespon…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Rumput laut yang dipanen dari perairan…
NYALANUSANTARA, Semarang— Pollux Hotels Group memperluas jejaring kemitraan…
Semarang - Kanwil Kemenkum Jateng turut berpartisipasi dalam…
NYALANUSANTARA, Semarang – Universitas Diponegoro (UNDIP) meluncurkan Smart…
NYALANUSANTARA, Keerom – Sebagai bentuk komitmen nyata dalam…

Komentar