Kenali Cognitive Dysfunction Syndrome pada Anjing dan Kucing Lansia, Gejalanya Mirip Alzheimer pada Manusia

Kenali Cognitive Dysfunction Syndrome pada Anjing dan Kucing Lansia, Gejalanya Mirip Alzheimer pada Manusia

NYALANUSANTARA, Yogyakarta- Pemilik hewan kesayangan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan perilaku pada anjing dan kucing yang memasuki usia lanjut. Salah satu gangguan yang sering terjadi adalah Cognitive Dysfunction Syndrome (CDS), yaitu gangguan neurodegeneratif yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif serta perubahan perilaku pada hewan.

Meski cukup sering ditemukan pada hewan senior, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap CDS masih tergolong rendah. Kondisi tersebut menjadi perhatian Kelompok Studi Hewan Kesayangan (KSHK) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui seminar internasional bertajuk edukasi kesehatan hewan kesayangan yang digelar secara daring pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Seminar tersebut menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Nirut Suwanna, DVM, PhD, DTBVM, dosen dengan fokus studi *Small Animal Neurology and Neurosurgery* dari Kasetsart University, Thailand. Kegiatan ini didukung oleh PT Eka Farma Semarang, salah satu perusahaan perintis farmasi hewan di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Prof. Nirut menjelaskan bahwa CDS pada anjing dan kucing memiliki kemiripan dengan penyakit Alzheimer pada manusia. Kondisi ini terjadi akibat proses degeneratif pada otak yang berkaitan dengan usia.

“CDS pada anjing dan kucing merupakan kondisi neurodegeneratif terkait usia yang memiliki beberapa perubahan patologi otak serupa dengan Alzheimer pada manusia, salah satunya penumpukan protein neurotoksik β-amyloid yang dapat merusak fungsi sinapsis,” jelasnya.

Menurut Prof. Nirut, deteksi dini menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Pada anjing, pemilik dapat mengenali tanda CDS melalui metode DISHA, yaitu Disorientation (kebingungan atau perilaku seperti berjalan memutar), Interaction (perubahan interaksi dengan manusia atau hewan lain), Sleep-wake cycle (gangguan pola tidur), House soiling (buang air tidak pada tempatnya), serta Activity (perubahan tingkat aktivitas).

Sementara pada kucing, tanda gangguan kognitif dapat diamati melalui metode VISHDAAL. Indikatornya meliputi Vocalization (mengeong lebih sering), Interaction (perubahan hubungan sosial), Sleep-wake cycle*, House soiling, Disorientation, Activity, Anxiety, serta penurunan kemampuan belajar dan memori.

Prof. Nirut menyebutkan bahwa pemeriksaan oleh dokter hewan tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan terapi yang sesuai. Penanganan dapat melibatkan pemberian obat berdasarkan resep dokter serta dukungan nutrisi khusus.

“Diet dengan kandungan antioksidan, Omega-3, dan MCT (Medium Chain Triglyceride) dapat membantu mendukung kesehatan fungsi otak pada hewan lanjut usia,” ujarnya.

Selain nutrisi, aktivitas fisik dan stimulasi mental juga berperan dalam menjaga fungsi kognitif. Olahraga rutin serta permainan yang melatih kemampuan berpikir dapat membantu meningkatkan aliran darah ke otak dan memperlambat penurunan fungsi kognitif.

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini