FISIP Undip dan UNODC Bedah Tata Kelola SDGs di Lapas Semarang

FISIP Undip dan UNODC Bedah Tata Kelola SDGs di Lapas Semarang

NYALANUSANTARA, Semarang - Lapas Kelas I Semarang menerima kunjungan program SDGs International Community Service dari KBK Reformasi Birokrasi FISIP Universitas Diponegoro (Undip), Kamis (27/8).

​Kegiatan yang berlangsung di Aula Merdeka ini menghadirkan akademisi internasional Nick Tobia, Ph.D. dari Ateneo de Manila University (Filipina) sekaligus Officer UNODC, bersama 5 dosen dan 15 mahasiswa FISIP Undip. Rombongan disambut hangat oleh jajaran Lapas yang diwakili oleh Kasie Bimkemas beserta staf.

​Mengawali rangkaian acara, rombongan diajak meninjau langsung berbagai unit Pembinaan Kemandirian WBP untuk melihat dari dekat produktivitas warga binaan. Beberapa area yang dikunjungi meliputi peternakan lele, galeri pembuatan batik, unit produksi bakery, hingga peternakan ayam petelur.

Kunjungan tersebut memberikan kesan mendalam bagi para peserta. Salah seorang mahasiswa FISIP Undip mengungkapkan wawasan baru yang didapatkannya selama melihat langsung aktivitas pembinaan di dalam Lapas.

​"Pengalaman mengunjungi Lapas Kelas I Semarang memberikan banyak wawasan baru bagi saya. Ternyata suasana di dalam Lapas tidak semenyeramkan yang dibayangkan. Banyak sekali kegiatan positif yang dilakukan warga binaan, tidak sekadar sebatas hobi, tetapi juga kegiatan produktif yang menghasilkan nilai ekonomi," tuturnya.

​Memasuki sesi terakhir, agenda dilanjutkan dengan diskusi interaktif mengenai reformasi birokrasi, pelayanan publik, dan pencapaian SDGs. Dalam sesi ini, tim dari FISIP Undip mengajukan pertanyaan terkait mekanisme pengarahan program pembinaan bagi para warga binaan. Pihak Lapas menjelaskan bahwa program pembinaan pada dasarnya tidak dipaksakan. Pengarahan memang diberikan sesuai latar belakang dan potensi warga binaan, namun pelaksanaannya tetap bertumpu pada kesadaran serta kemauan murni dari warga binaan itu sendiri.

​Menjawab pertanyaan mengenai penyaluran bakat khusus seperti WBP yang memiliki latar belakang atlet bela diri, pihak Lapas menegaskan bahwa aktivitas yang melibatkan kontak fisik langsung dialihkan ke cabang olahraga yang aman dan tidak memicu risiko pengamanan, seperti senam bersama, bola voli, hingga bulu tangkis. Langkah ini dilakukan agar energi dan potensi fisik WBP tetap tersalurkan secara positif untuk menjaga kesehatan tubuh sekaligus meredakan stres selama masa pembinaan.

​Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari, menyampaikan apresiasinya atas sinergi lintas lembaga ini dalam memperkuat kualitas pemasyarakatan.

​"Sinergi bersama FISIP Undip dan UNODC memperkuat komitmen kami dalam mengintegrasikan standar pelayanan publik dan pencapaian SDGs tanpa mengesampingkan aspek keamanan," tegas Ahmad Tohari.

​Rangkaian kegiatan internasional tersebut berjalan dengan aman, tertib, dan lancar hingga akhir acara.

preferred sources in Google Searc


Editor: Holy

Komentar

Terkini