Peneliti Membran UNDIP – University of Aberdeen Kembangkan Teknologi Recovery Lithium untuk Mineral Kritis

Peneliti Membran UNDIP – University of Aberdeen Kembangkan Teknologi Recovery Lithium untuk Mineral Kritis

NYALANUSANTARA, Semarang – Peneliti Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama University of Aberdeen (UoA), Scotland, UK, mengembangkan teknologi membran dan material adsorben untuk recovery lithium dari subsurface brines. Riset ini penting di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis untuk industri teknologi tinggi, energi hijau, hingga pertahanan.

Riset tersebut merupakan bagian dari kolaborasi internasional yang terjalin sejak 2024 antara UNDIP dan University of Aberdeen. Dari UNDIP, penelitian melibatkan Prof. Dr.rer.nat. Ir. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T. dan Ir. Titik Istirokhatun, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU, sedangkan dari University of Aberdeen dilaksanakan oleh Dr. Amin Sharifi dan tim.

Kolaborasi berlangsung melalui pendanaan riset internasional skema International Science Partnerships Fund (ISPF) dalam proyek berjudul Developing Membrane Technology and Adsorbents for Lithium Recovery from Subsurface Brines: Investigating Diffusion and Adsorption Process with Membrane. Prof. Heru Susanto yang juga bertindak sebagai principal investigator dari UNDIP mengatakan penelitian ini berfokus pada pengembangan teknologi membran dan material adsorben untuk recovery lithium dari subsurface brines.

“Kami mempelajari bagaimana proses difusi dan adsorpsi berlangsung sehingga dapat dikembangkan material yang semakin selektif dan efektif untuk mengambil unsur yang dibutuhkan,” jelas Prof. Heru.

Recovery mineral kritis dan logam tanah jarang merupakan proses pengambilan kembali unsur mineral berharga melalui ekstraksi, pemisahan, dan pemurnian. Sumbernya dapat berasal dari sumber primer maupun sumber sekunder seperti tailing pertambangan dan sampah elektronik melalui pendekatan urban mining.

Mineral kritis dan logam tanah jarang merupakan komoditas strategis global. Neodimium termasuk logam tanah jarang, sedangkan lithium dan nikel merupakan mineral kritis. Material-material tersebut dibutuhkan untuk berbagai produk modern, mulai dari telepon seluler, baterai kendaraan listrik, teknologi energi hijau, hingga teknologi pertahanan.

Menurut Prof. Heru, teknologi recovery menjadi penting karena sumber daya tersebut bersifat tidak terbarukan. “Ke depan kita tidak bisa hanya berpikir mencari sumber mineral baru. Kita juga harus memiliki kemandirian teknologi untuk mengambil kembali unsur berharga dari sumber yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk sumber sekunder. Di sinilah teknologi recovery, membran, dan adsorben menjadi sangat relevan,” ujarnya.

Alasan penting pengembangan teknologi recovery

Setidaknya terdapat tiga alasan pentingnya pengembangan teknologi recovery. Pertama, meningkatnya kebutuhan mineral untuk teknologi tinggi dan energi hijau. Kedua, pentingnya memanfaatkan sumber sekunder seperti sisa pengolahan tambang nikel, timah, bauksit, tailing, maupun sampah elektronik. Ketiga, adanya tantangan lingkungan karena proses pemisahan mineral dapat menghasilkan limbah berbahaya dan, pada jenis sumber tertentu, berasosiasi dengan material radioaktif apabila tidak dikelola dengan baik.

Titik Istirokhatun, Ph.D. menjelaskan bahwa teknologi membran menawarkan peluang pengembangan proses pemisahan yang lebih selektif.

preferred sources in Google Searc


Editor: Holy

Komentar

Terkini