PekaKota Forum #87 Soroti Sejarah Rob dan Masa Depan Kemijen
NYALANUSANTARA, Semarang – Sejarah warga Kemijen menghadapi banjir dan rob menjadi pembahasan dalam PekaKota Forum #87 yang digelar Kelurahan Kemijen bersama Hysteria di Lapangan Sedompyong, RW 10, Kelurahan Kemijen, Kota Semarang, Sabtu (29/8/2026). Forum tersebut mengangkat tema “Mempelajari Masa Lalu, Memahami Masa Kini, dan Merancang Masa Depan Kemijen.”
Dalam forum, warga membahas perubahan Kemijen dalam menghadapi banjir dan rob sejak 1980 hingga 2016. Kawasan yang sebelumnya cenderung dihindari karena persoalan banjir dan rob perlahan mengalami perubahan. Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat juga berkembang seiring perubahan kawasan.
Meski demikian, persoalan banjir dan rob masih menjadi perhatian warga. Salah satunya terkait pembangunan kolam retensi yang menurut warga belum berlanjut sejak 2016.
“Banjir dan rob masih menjadi tantangan bagi Kemijen. Pembangunan kolam retensi yang sudah sekitar 10 tahun ini juga belum ada kabar lebih lanjut. Kalau tidak segera dibuat, diperkirakan dua sampai tiga tahun ke depan Kemijen akan kembali banjir,” ujar Sukatno, penggiat kampung Kemijen yang telah aktif sejak bergabung dengan Karang Taruna pada 1987.
Pembahasan mengenai rob kemudian berlanjut pada perubahan lanskap dan jejak sejarah Kemijen. Etika Filoshofia, peneliti dan penulis yang berfokus pada multiliterasi serta sejarah dan kebudayaan Stasiun Semarang (NIS), memaparkan data untuk rancangan penelitiannya mengenai sejarah perkeretaapian di kawasan tersebut.
“Kemijen punya posisi penting dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Di kawasan ini berdiri stasiun yang menjadi bagian dari jalur kereta api pertama di Indonesia yang dibangun oleh NIS. Namun, karena persoalan rob, aktivitas perkeretaapian kemudian dipindahkan. NIS selanjutnya membangun stasiun baru yang sekarang kita kenal sebagai Stasiun Tawang,” ujar Etika.
Etika menjelaskan, Stasiun Kemijen merupakan salah satu titik pemberhentian dalam jaringan perkeretaapian NIS. Sementara itu, stasiun utama NIS yang memiliki bangunan lebih besar juga berada di kawasan Kemijen dan jejaknya kini terdampak perubahan lingkungan akibat rob.
Dari pembahasan sejarah dan persoalan lingkungan, forum kemudian beralih pada cara warga memaknai sungai. Ergiansyah, kurator Pekan Kebudayaan Kota Bandung dan penggiat kolektif, membagikan pengalaman mengenai festival sungai di Bandung.
Pengalaman tersebut memiliki kesamaan dengan rencana Festival Kali Bangger di Kemijen. Festival sungai dipandang tidak hanya sebagai kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga sebagai ruang pertemuan warga dan upaya membangun kembali hubungan masyarakat dengan sungai.
Festival Kali Bangger akan digelar di Kemijen pada Minggu (30/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian aktivitas warga yang mengangkat sungai sebagai bagian dari kehidupan dan ruang kebudayaan kampung.
Editor: Holy
Terkini
NYALANUSANTARA, REMBANG- Mercedes-Benz memastikan pemesanan GLC Electric terbaru di…
NYALANUSANTARA, Semarang– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan layanan…
NYALANUSANTARA, Demak– Menyelesaikan hafalan Al-Qur’an bukan menjadi akhir…
Semarang – Kota Semarang siap menyambut perhelatan Musabaqah…
NYALANUSANTARA, Semarang– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperketat pengawasan…
NYALANUSANTARA, Semarang– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai memperkuat…
Semarang – Kota Semarang menyatakan kesiapan penuh dalam…
Semarang - Dalam rangka mendukung implementasi Undang-Undang Nomor…
NYALANUSANTARA, Bogor - KAI Services siap mendukung penataan…
NYALANUSANTARA, Semarang– Kesehatan dan kebugaran petugas menjadi kunci…
NYALANUSANTARA, Semarang - Kekhawatiran dua keluarga setelah anggota…

Komentar