Media Sosial Ubah Pola Interaksi Masyarakat Indonesia, Literasi Digital Jadi Tantangan
XINHUA
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Media sosial telah mengubah cara masyarakat Indonesia berkomunikasi dan membangun hubungan sosial. Interaksi yang sebelumnya banyak berlangsung secara langsung kini berpindah ke ruang digital yang dapat diakses kapan saja dan menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat.
Perubahan tersebut berjalan seiring dengan tingginya penggunaan media sosial di Indonesia. Berdasarkan laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal, masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari di berbagai platform media sosial. Jumlah penggunanya diperkirakan mencapai sekitar 180 juta orang atau 62,9 persen dari total populasi.
Praktisi komunikasi dan media sosial Didit Putra Erlangga mengatakan peningkatan penggunaan tersebut tidak sekadar menunjukkan perubahan tren, tetapi juga mencerminkan pergeseran mendasar dalam cara masyarakat memperoleh informasi, berdiskusi, membentuk komunitas, hingga memengaruhi kebijakan publik.
Menurut Didit, media sosial kini tidak hanya menjadi sarana berkomunikasi, tetapi juga ruang untuk memperoleh informasi, berdebat, mencari hiburan, melakukan transaksi ekonomi, dan membentuk opini publik. Kondisi tersebut membuat merek, organisasi, maupun pemerintah menjadikan media sosial sebagai salah satu saluran komunikasi utama.
Namun, semakin luasnya ruang digital juga membawa konsekuensi. Salah satunya adalah perubahan makna ruang publik. Jika sebelumnya percakapan publik berlangsung di ruang fisik dengan batas yang lebih jelas, kini sebuah unggahan pribadi dapat dengan mudah masuk ke ruang publik dan tersebar jauh di luar kendali pembuatnya.
Didit mencontohkan kasus seorang pasien yang mengeluhkan keterbatasan ruang perawatan dan kemudian mendapat perundungan dari sejumlah tenaga kesehatan. Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan bagaimana hilangnya konteks di media sosial dapat memicu kesalahpahaman. Ungkapan yang awalnya dimaksudkan sebagai curahan hati dapat ditafsirkan sebagai serangan terhadap institusi tertentu.
Risiko lain muncul dari penyebaran data pribadi. Banyak pengguna belum menyadari bahwa informasi yang telah dipublikasikan dapat disimpan, disebarluaskan, maupun diunggah kembali oleh pihak lain tanpa persetujuan pemiliknya.
Di sisi lain, media sosial juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menemukan komunitas dengan minat yang lebih spesifik. Algoritma memungkinkan pengguna bertemu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa meskipun berada di wilayah berbeda.
Didit mencatat rata-rata pengguna Indonesia aktif menggunakan 7,7 platform media sosial setiap bulan. Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan semakin beragamnya komunitas niche yang terbentuk di ruang digital.
Namun, tingginya intensitas interaksi tidak selalu menghasilkan percakapan yang berkualitas. Banyak diskusi berakhir dalam komentar singkat, sementara perubahan topik yang cepat membuat perhatian publik mudah berpindah dari satu isu ke isu lainnya.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang – Unwahas Semarang kembali menorehkan langkah…
NYALANUSANTARA, Riau – Tim Pembina Samsat Nasional terus…
NYALANUSANTARA, Semarang – Polda Jateng menggelar Upacara Serah…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kepala Kanwil Kemenkumm Jateng, Heni…
Tegal - Kanwil Kemenkum Jateng terus mendorong penguatan…
Jakarta – Pemerintah menindaklanjuti arahan presiden untuk melakukan…
NYALANUSANTARA, Semarang– Gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026…
NYALANUSANTARA, Salatiga– Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence…
NYALANUSANTARA, Semarang— Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Jawa…
NYALANUSANTARA, Semarang— Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan…
NYALANUSANTARA, Semarang – Fakultas Sains dan Matematika (FSM)…

Komentar