Desa di Indonesia dan Tiongkok Bertukar Pengalaman Kembangkan Potensi Ekonomi Lokal
XINHUA
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Sebanyak 40 peserta muda dari Indonesia, Bangladesh, Laos, Nepal, Timor-Leste, Thailand, dan Vietnam mengikuti program China Agricultural University-Tencent Global South Rural Entrepreneurs Development Initiative 2026 pada 22–26 September 2026 di Prefektur Otonom Etnis Dai Xishuangbanna, Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya.
Dalam program tersebut, para peserta mengunjungi Desa Manluanzhan dan Hebian untuk mempelajari pengembangan ekonomi lokal, pariwisata, serta pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengalaman mengenai cara desa mempertahankan karakter khas sekaligus menciptakan peluang pembangunan baru.
Salah satu peserta asal Indonesia adalah Ni Luh Feby Karisma Putri, pejabat manajemen pariwisata dari Desa Penglipuran, Bali. Ia mengikuti program tersebut atas rekomendasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia.
Penglipuran dikenal sebagai desa tradisional Hindu yang menjadikan pariwisata sebagai sektor utama perekonomian. Pada 2023, desa tersebut dinobatkan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik oleh UN Tourism. Saat ini, Penglipuran menerima rata-rata sekitar 2.000 wisatawan setiap hari.
Putri menjelaskan bahwa pariwisata di desanya terintegrasi dengan kehidupan tradisional masyarakat. Wisatawan dapat mengenal budaya dan cara hidup warga secara langsung.
Saat mengunjungi Manluanzhan, ia melihat kesamaan pendekatan pengembangan pariwisata antara desa di Bali dan Tiongkok. Sejak 2023, Manluanzhan menjalankan inisiatif pembangunan pedesaan yang melibatkan petani, badan usaha kolektif desa, universitas, organisasi sosial, dan pemerintah.
Dalam waktu satu tahun, desa tersebut berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi yang memadukan bisnis, layanan, dan pariwisata. Pada 2025, usaha-usaha baru di Manluanzhan menghasilkan pendapatan lebih dari 2,6 juta yuan. Lebih dari 80 persen pendapatan tersebut disalurkan kepada petani, sedangkan sisanya diberikan kepada badan usaha kolektif desa.
Berbeda dengan Penglipuran, Desa Setu di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, masih mengandalkan sektor pertanian. Desa yang memiliki sekitar 6.000 penduduk itu mengembangkan kegiatan budi daya tanaman, peternakan, dan pemeliharaan unggas.
Kepala Desa Setu, Esa Asmarini, mengikuti program tersebut untuk mempelajari pengalaman pembangunan pedesaan di Tiongkok dan mencari peluang peningkatan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.
Di Desa Hebian, Asmarini mengamati warga yang tetap menjalankan kegiatan tradisional, seperti menyadap karet, membuat minuman beralkohol, dan beternak lebah, sembari mengembangkan usaha baru berupa penginapan atau homestay. Desa Manluanzhan dan Hebian juga memanfaatkan siaran langsung atau livestreaming untuk memasarkan produk dan layanan lokal.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Drama SBS terbaru, “Doctor X: The Age…
NYALANUSANTARA, DEPOK- Infinix Smart 20 HD resmi diluncurkan di…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- OnePlus dikabarkan tengah menyiapkan seri Ace 7…
NYALANUSANTARA, Semarang - Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng…
KUASAKATACOM, Ungaran - Beredar di sejumlah akun media…
NYALANUSANTARA, Semarang – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi…
NYALANUSANTARA, Semarang – Unwahas Semarang kembali menorehkan langkah…
Serial web Dupahiya Musim 2 kembali menghadirkan Gajraj…
NYALANUSANTARA, Riau – Tim Pembina Samsat Nasional terus…
NYALANUSANTARA, Semarang – Polda Jateng menggelar Upacara Serah…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kepala Kanwil Kemenkumm Jateng, Heni…

Komentar