Unpad Bekerja Sama Dengan KLHK dan FAO Luncurkan Wildlife Journalism Competition

Unpad Bekerja Sama Dengan KLHK dan FAO Luncurkan Wildlife Journalism Competition

NYALANUSANTARA, Sumedang– Pusat Studi Komunikasi Lingkungan (Pusdikomling) Universitas Padjadjaran resmi meluncurkan “Wildlife Journalism Competition” (WJC), kompetisi jurnalistik terbesar di Indonesia pada Rabu, 22 Mei 2024 di Universitas Padjajaran, Kampus Jatinangor. Acara peluncuran ini dilakukan secara hybrid yang dihadiri sekitar 500 mahasiswa baik secara luring maupun daring. Kompetisi yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi satwa liar melalui karya jurnalistik ini mengundang partisipasi para jurnalis kampus, termasuk pers mahasiswa (Persma), komunitas jurnalis kampus, dan mahasiswa di seluruh Indonesia yang memiliki minat pada isu konservasi, terutama konservasi satwa liar.

WJC didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa atau Food and Agricultural Organization of the United Nations Indonesia (FAO), Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau United States Agency for International Development (USAID), Pertamina New and Renewable Energy, Garda Animalia, dan sejumlah pihak lainnya. 

Pembukaan WJC dilakukan oleh Direktur Inovasi dan Koorporasi UNPAD, Prof. Dr. Tomy Perdana mewakili rektor, secara simbolis dengan penancapan kujang, senjata tradisional simbol kebudayaan masyarakat Sunda yang menandai komitmen seluruh pihak yang terlibat dalam perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia. 

Prof. Tomy mengatakan bahwa perlombaan ini sesuai dengan pola ilmiah pokok Universitas Padjadjaran yang dikembangkan sejak tahun 1970-an yaitu, bina mulia hukum dan lingkungan yang dirancang para guru besar UNPAD.

“Bisa kita bayangkan 54 tahun yang lalu dicetuskan dan ini sangat terasa hari ini, menjadi penting karena lingkungan tidak bisa terpisah dengan aspek keberlanjutan yang lain dan semakin kompleks. Karena semakin komplekslah masalah satwa liar ini dengan masalah lingkungan dengan tantangan iklim dan penyakit inveksis baru”, ujar dia. 

Adapun Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Dr. Dadang Rahmat Hidayat, S.Sos., SH., M.Si, menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi ajang untuk menjaga satwa dan lingkungannya. “Isu-isu ini berkaitan dengan hal yang jarang disentuh dalam konteks komunikasi, ini berkaitan dengan satwa, dan dunia lingkungan. Ini sangat baik, kita perlu menjaga satwa dan lingkungan di sekitar kita,” kata Dadang.   

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia melalui Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik KLHK Nunu Anugrah S.HUT., M.Sc, menyatakannya pentingnya acara ini untuk keberlanjutam konservasi di Indonesia. “Besar harapan saya agar melalui WJC, semakin banyak jurnalis dan mahasiswa yang dapat menghasilkan karya-karya jurnalistik berkualitas tentang konservasi satwa liar dan pelestarian lingkungan untuk meningkatkan kesadaran publik akan isu yang penting ini.”

Pada kesempatan yang sama, Perwakilan FAO untuk Indonesia and Timor Leste, Rajendra Aryal, menyambut baik kegiatan WJC. “Keterlibatan generasi muda sangat penting dalam menjaga kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk memastikan komunitas yang lebih sehat dan kuat. Acara ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan meningkatkan dukungan masyarakat terhadap inisiatif One Health, khususnya dalam pencegahan pandemi dan mengatasi ancaman kesehatan yang timbul dari satwa liar,” ujar dia. Rajendra juga menyatakan bahwa FAO bersama dengan pemerintah Indonesia selalu siap mendukung inisiatif keterlibatan pemuda untuk advokasi One Health.

USAID pun menyatakan dukungan penuh terhadap berjalannya acara ini. “Inovasi dan kolaborasi menjadi kunci untuk peningkatan kualitas kesehatan di Indonesia,” kata Enilda Martin, Direktur Kantor Kesehatan USAID Indonesia. “Amerika Serikat, melalui USAID, bangga menjadi bagian dari upaya pencegahan pandemi One Health di Indonesia sebagai bukti komitmen kita bersama.”

WJC akan berlangsung hingga November 2024, dengan mata lomba yang terdiri dari feature, photo story, dan video dokumenter. Sejumlah isu diangkat dalam perlombaan ini antara lain konflik antara manusia dan satwa, perburuan, komersialisasi satwa, zoonosis, degradasi habitat, serta perdagangan satwa. Adapun kompetisi ini akan melakukan loka karya untuk peserta lomba dan masyarakat umum melalui roadshow di sejumlah kampus yang berada di Bali, Surabaya, Medan, Pekanbaru, Ambon, Pontianak, dan Cilegon. Pemenang kompetisi akan mendapatkan penghargaan dan karyanya akan ditayangkan di televisi nasional.


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini