Menjelajahi Pulau Nol Karbon Pertama di China, Menilik Masa Depan Energi Bersih
Foto: Xinhua
NYALANUSANTARA, Beijing- Bayangkan tinggal di sebuah pulau di mana setiap bagian dari kehidupan Anda, mulai dari memasak makanan hingga penggunaan penerangan rumah, ditenagai oleh energi ramah lingkungan. Di Pulau Dachen, pulau nol karbon di China, hal itu bukan hanya sebuah ide namun telah menjadi kenyataan.
Terletak 29 mil laut di sebelah timur Kota Taizhou di Provinsi Zhejiang, dibutuhkan waktu hampir dua jam dengan kapal untuk mencapai Pulau Dachen, sepasang pulau yang dikenal dengan nama Dachen Hulu dan Dachen Hilir. Dulunya merupakan tempat uji coba turbin angin masa-masa awal di China, kini Dachen berada di garis depan dalam revolusi energi hijau.
Inti dari transformasi ini adalah sesuatu yang disebut transmisi daya frekuensi rendah yang fleksibel, yang merupakan teknologi pertama di dunia yang beroperasi pada 20 Hz, sementara sebagian besar sistem daya beroperasi pada 50 Hz atau 60 Hz. Frekuensi yang lebih rendah ini membawa keuntungan besar, yaitu mengurangi pengisian daya yang diperlukan untuk kabel bawah laut, memangkas biaya investasi, dan mengurangi dampak pada jaringan listrik, sehingga tidak hanya efektif, tetapi juga ekonomis.
Zhang Ye, wakil direktur departemen pengembangan dan konstruksi State Grid Zhejiang Taizhou Power Supply Company di Distrik Jiaojiang, menjelaskan, "Keuntungan terbesarnya adalah bahwa teknologi ini mencapai keseimbangan optimal antara kinerja teknis dan biaya, sehingga membuka jalan bagi transmisi angin lepas pantai jarak jauh di masa depan."
Namun, yang paling menarik bagi saya bukan hanya teknologinya, tetapi juga kisahnya.
Beberapa dekade yang lalu, Dachen merupakan sebuah pulau terpencil yang diselimuti kegelapan di malam hari. Satu-satunya sumber daya? Generator diesel, yang berisik, menimbulkan polusi, dan membutuhkan banyak tenaga kerja untuk merawatnya. Hal itu berubah pada 2009, ketika pulau itu mulai beralih ke tenaga angin.
Berdiri di luar Stasiun Pembangkit Listrik Dachen, hal pertama yang menarik perhatian saya adalah tiga bilah turbin tua yang sudah lapuk karena cuaca. Sebuah bentuk apresiasi sunyi atas kemajuan yang telah dicapai pulau tersebut.
Editor: Redaksi
Sumber: Xinhua
Terkait
NYALANUSANTARA, Jakarta- Pada awal April 2025, Indonesia mencatat…
NYALANUSANTARA, Beijing- Sampel eksperimen biologi dan ilmu hayati…
Terkini
Sinemaku Pictures kembali mempersembahkan film drama emosional berjudul…
NYALANUSANTARA, SEMARANG – Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, menegaskan…
NYALANUSANTARA, JAKARTA – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali menorehkan…
CNPC Indonesia Sigap Memberikan Dukungan Darurat untuk PLTA Batang Toru dan Daerah Terdampak Bencana
NYALANUSANTARA, JAKARTA- CNPC Indonesia menunjukkan komitmen tinggi terhadap keselamatan…
NYALANUSANTARA, Semarang - PDAM Tirta Moedal Kota Semarang…
NYALANUSANTARA, Semarang – Dharma Wanita Persatuan atau DWP…
NYALANUSANTARA, Semarang - Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Yang Hansen akhirnya mencatat momen penting dalam…
NYALANUSANTARA, Banyumas - KAI menghadirkan promo tarif spesial…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memperkenalkan berbagai…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kanwil Kemenkum Jateng menjadi narasumber…
Komentar