Konflik Timur Tengah Memanas, Seruan Tahan Diri Bergema dari Eropa

Konflik Timur Tengah Memanas, Seruan Tahan Diri Bergema dari Eropa

NYALAUSANTARA, DEN HAAG- Para pemimpin Eropa menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait meningkatnya konflik di Timur Tengah, menyusul serangkaian serangan militer yang memicu ketakutan akan terjadinya perang regional yang lebih luas.

   Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin (23/6), Perdana Menteri Kroasia Andrej Plenkovic menyampaikan pemerintah Kroasia "tengah memantau situasi itu dengan kekhawatiran yang besar," terutama konfrontasi langsung antara Israel dan Iran.

   Dia memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat menyebabkan berbagai konsekuensi, termasuk melonjaknya harga energi, peningkatan migrasi, dan ancaman serangan teroris.

   "Posisi kami jelas: eskalasi harus dihindari," demikian bunyi pernyataan tersebut. "Pemerintah Kroasia menyerukan agar (semua pihak) menahan diri, meredakan ketegangan, dan deeskalasi konflik."

Presiden Serbia Aleksandar Vucic juga mengkritik aksi militer Amerika Serikat (AS) baru-baru ini di kawasan tersebut, dan menyebut serangan terhadap Iran sebagai pelanggaran hukum internasional.

   "Tidak ada keraguan bahwa AS melanggar hukum publik internasional," ujar Vucic dalam sebuah konferensi pers setelah menggelar pertemuan dengan Staf Umum Serbia.

   Menarik persamaan dengan pengeboman NATO di Yugoslavia pada 1999 lalu, dia menekankan perlunya penghormatan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan norma internasional. Vucic juga menyesalkan hilangnya peluangnya diplomasi antara Iran dan Israel.

   Di Italia, Perdana Menteri Giorgia Meloni berpidato di hadapan majelis rendah parlemen negara itu menjelang pertemuan Dewan Uni Eropa mendatang, mendesak keterlibatan diplomatik yang baru.

   "Hanya tindakan diplomatik yang terkoordinasi yang dapat menjamin perdamaian di kawasan tersebut," tutur Meloni, pascaserangan AS terhadap tiga situs nuklir Iran.

Presiden Portugal Marcelo Rebelo de Sousa mengeluarkan sebuah pernyataan pada Minggu (22/6) yang menyerukan "tindakan menahan diri dan memulai kembali upaya-upaya diplomatik sesegera mungkin," sembari menekankan bahwa diplomasi tetap menjadi satu-satunya solusi yang layak untuk menyelesaikan konflik tersebut.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu
Sumber: Xinhua

Terkait

Komentar

Terkini