Menengok Perayaan Saparan di Dusun Gledeg Candimulyo Kab Magelang
NYALANUSANTARA, Mungkid- Perayaan tradisi saparan di Dusun Gledeg, Desa Podosoko, Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah berfokus pada sumber mata air dan sawah, yang menjadi inti dari upacara tersebut. Tradisi ini bertujuan untuk memohon keselamatan dengan cara merawat alam. Setiap bulan dalam penanggalan Jawa memiliki makna khusus, dan bulan Safar, yang merupakan bulan kedua setelah Sura, dimaknai sebagai bulan untuk menjauhkan diri dari musibah.
Pada bulan Safar, masyarakat biasanya menggelar tradisi saparan, yang merupakan rangkaian upacara untuk memohon keselamatan kepada Tuhan. Di dalam tradisi ini, doa-doa dipanjatkan agar dijauhkan dari paceklik dan dapat menikmati hasil panen yang melimpah. Secara simbolik, harapan tersebut diwujudkan dalam bentuk tumpeng yang disertai lauk-pauk. Setelah doa bersama, tumpeng tersebut akan disantap bersama sebagai bentuk rasa syukur.
Di Dusun Gledeg, harapan dan doa tersebut diwujudkan melalui prosesi kirab tumpeng. Kirab ini dimulai dari areal sawah di ujung Dusun Ledok dan berakhir di bendungan di kampung tetangga, Dusun Ngipik, Desa Tegalsari. Pengairan untuk sekitar 46 hektar sawah di Dusun Gledeg dan Ledok sangat bergantung pada sumber air dari bendungan Ngipik. Bendungan ini menahan dan membagi aliran Sungai Agas melalui saluran irigasi yang mengalir ke Dusun Gledeg.
Prosesi kirab tumpeng ini tidak hanya berfungsi sebagai upacara, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya menjaga sumber air. "Jika tidak dirawat, akan berdampak pada pertanian di Dusun Gledeg. Bendungan Ngipik adalah sumber utama air bagi para petani," ujar Wardoyo, tokoh masyarakat Dusun Gledeg, pada Sabtu (9/8).
Menurut Wardoyo, prosesi saparan ini menggabungkan makna filosofi yang terkandung dalam tradisi, sekaligus diwujudkan dalam tindakan nyata.
"Bumi perlu dirawat bersama. Tidak hanya dengan rasa syukur secara spiritual, tetapi juga dengan merawat jalur irigasi. Sawah harus dibersihkan dan ditata agar panen menjadi baik," tambahnya.
Doa dalam prosesi kirab saparan di Dusun Gledeg dipimpin oleh modin Slamet Kartohardjo, yang dilakukan di areal sawah sebelum rombongan diberangkatkan dan di lokasi bendungan. Sawah dan bendungan terpisah sekitar 2 kilometer. Tumpeng yang dibawa dari sawah ditandu hingga batas desa dan kemudian diangkut menggunakan kendaraan.
Slamet Kartohardjo menjelaskan bahwa bendungan Ngipik dibangun oleh Kiai Selim untuk menahan aliran Sungai Agas. Aliran sungai yang terbendung kemudian dialirkan ke saluran irigasi menuju Dusun Gledeg. Meskipun tidak mengetahui tanggal pasti pembangunan bendungan tersebut, Slamet, yang berusia 80 tahun, ingat bahwa bendungan sudah ada sejak ia masih kecil.
Bendungan Ngipik bukan hanya berfungsi sebagai sarana irigasi, tetapi juga mencegah sawah di Dusun Gledeg dari banjir. Meski tidak terlalu besar, Sungai Agas sering meluap pada musim hujan. "Bendungan Ngipik juga berfungsi untuk menjaga sawah di Gledeg dan Ledok agar tidak terendam banjir. Jadi, kami berdoa agar bendungan ini tetap kuat mencegah banjir," kata Slamet Kartohardjo.
Editor: Redaksi
Terkait
NYALANUSANTARA, MAGELANG- Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Raya…
NYALANUSANTARA, MAGELANG — Kebakaran melanda ruko milik Nuraini (52)…
Terkini
NYALANUSANTARA, PARIS- Kehadiran Alia Bhatt di Festival Film Cannes…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Salah satu grup konglomerasi terbesar di…
NYALANUSANTARA, Semarang - Perlindungan paten dinilai menjadi kunci…
NYALANUSANTARA, Yogya - Di tengah riuh tepuk tangan…
NYALANUSANTARA, Jakarta - KAI Services mengimbau masyarakat untuk…
NYALANUSANTARA, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati…
NYALANUSANTARA, Semarang - Dewan Masjid Indonesia Provinsi Jawa…
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Wisata melaksanakan program…
NYALANUSANTARA, Semarang - Shopee Indonesia kembali mempertegas komitmennya…
NYALANUSANTARA, Semarang – Dinas Perhubungan atau Dishub Kota…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Kementerian Pertanian Republik Indonesia bersama Badan Pangan…
Komentar