Ikuti Pertukaran Pendidikan, Nur Azizah Tertarik dengan Mempelajari Arsitektur China dan Indonesia

Ikuti Pertukaran Pendidikan, Nur Azizah Tertarik dengan Mempelajari Arsitektur China dan Indonesia

NYALANUSANTARA, Jakarta- Kerjasama budaya dan teknologi antara China-ASEAN, ternyata turut mendorong juga adanya kerja sama pendidikan di kedua wilayah tersebut. Hal itu tentunya menjadi nilai tambah bagi para pelajar khususnya mahasiswa yang terlibat dalam program pertukaran pendidikan China-ASEAN.

Guna lebih memperdalam pertukaran pendidikan China-ASEAN, sejak Juni 2025 digelar China-ASEAN "Future Architects" Summer Camp yang meluncurkan kegiatan dialog pemuda internasional secara daring. Sebanyak 21 mahasiswa dari sembilan negara ASEAN berkunjung ke Guizhou pada akhir Juli. 

Melalui interaksi budaya, praktik profesional, dan pertukaran intelektual, kamp tersebut bertujuan menggali model pendidikan inovatif dalam memajukan arsitektur ramah lingkungan serta pelestarian warisan budaya antara China dan negara-negara ASEAN. 

Salah satu mahasiswa asal Indonesia yang terlibat dalam program tersebut Nur Anisa Triyana mengungkapkan ketertarikannya. "Dengan menjajal pengalaman persamaan dan perbedaan dalam kerajinan arsitektur serta adat istiadat antara China dan Indonesia, saya merasakan adanya resonansi budaya," katanya.

"Meski struktur kayu bangunan kuno di Kota Kuno Qingyan, Provinsi Guizhou, China barat daya, berbeda dengan arsitektur tradisional Indonesia, keduanya sama-sama menekankan estetika simetris dan fungsi lingkungan. Perbedaan dan persamaan ini memberi kami banyak bahan untuk mempelajari serta memahami budaya arsitektur tradisional kedua negara," imbuh Nur.

Sebagai salah satu peserta, Nur yang berusia 24 tahun datang ke Guizhou dari Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk kali pertama dan mengaku memperoleh banyak pengalaman berharga.

"Orang-orang di sini sangat ramah dan hangat. Budaya etnis yang beragam dan kuliner yang lezat membuat kami merasa seperti di rumah sendiri, dan cuacanya juga sejuk," kata Nur penuh antusias saat berbagi kesan pertamanya tentang Guizhou.

"Saya sudah tertarik dengan budaya China sejak kecil. Saya sangat senang mendapat kesempatan mengunjungi Guizhou untuk belajar lebih banyak tentang budaya setempat. Batik dan sulaman di Guizhou sangat indah. Pakaian tradisional Indonesia, Kebaya, juga banyak menampilkan sulaman dan batik yang cantik," jelas Nur sambil menunjuk busana adatnya. 

"Kami mengenakannya saat pernikahan dan acara penting, sama seperti kelompok etnis di Guizhou," imbuhnya.

Songheang Ai, Direktur Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Technical Education Development (SEAMEO TED), mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir SEAMEO TED secara berkesinambungan menyelenggarakan summer camp pemuda bekerja sama dengan perguruan tinggi vokasi di berbagai wilayah China. Kegiatan ini bertujuan memperluas platform pertukaran budaya di kalangan pemuda China-ASEAN serta memperdalam kerja sama pendidikan dan kolaborasi masa depan di antara negara-negara ASEAN.


Editor: Redaksi
Sumber: Xinhua

Terkait

Komentar

Terkini