REVIEW Nobody (2025): Ketika Para Figuran Menjadi Pusat Cerita

REVIEW Nobody (2025): Ketika Para Figuran Menjadi Pusat Cerita

Film animasi 2D asal Tiongkok Nobody (2025) muncul sebagai alternatif segar di tengah maraknya animasi 3D global. Berangkat dari novel klasik Journey to the West karya Wu Cheng’en, film ini tidak menyoroti perjalanan heroik Sun Wukong dan Biksu Tang sebagaimana yang sudah sering diadaptasi. Alih-alih mengikuti tokoh utama legenda, Nobody justru mengangkat sudut pandang yang jarang dilirik: para siluman kelas bawah yang selama ini hanya hadir sebagai pelengkap cerita.

Sudut Pandang Tak Biasa dari Legenda Klasik

Kisah Nobody berfokus pada empat siluman kecil—siluman babi, katak, musang, dan gorila—yang hidup di strata paling rendah dunia siluman. Mereka bukan pejuang hebat, bukan pula tokoh penting. Status mereka sebagai “orang kecil” inilah yang menjadi inti kekuatan cerita.

Merasa jenuh hidup dalam penindasan tanpa harapan, Siluman Babi mengajukan gagasan nekat: menyamar sebagai rombongan Biksu Tang dan berangkat ke Barat lebih dahulu demi meraih keabadian. Dengan penyamaran seadanya yang kerap berujung konyol, keempat siluman ini memulai perjalanan berbahaya yang sarat humor, risiko, dan perenungan diri.

Humor Absurd dengan Sentuhan Realitas

Ditulis oleh Yu Shui bersama Liu Jia, naskah Nobody memadukan komedi absurd dengan kritik sosial yang tajam. Film ini merefleksikan realitas getir kehidupan kelas bawah—mulai dari kehilangan mata pencaharian, perjuangan bertahan hidup, hingga rasa putus asa—yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat modern, terutama di perkotaan.

Percakapan antar tokohnya ringan dan jenaka, namun tetap membumi. Para siluman digambarkan penuh kekurangan: mudah bertikai, sering salah langkah, bahkan saling menyakiti. Dari ketidaksempurnaan itulah tumbuh proses belajar, kedewasaan, dan rasa kebersamaan.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini