ULASAN Lupa Daratan: Ambisi Besar, Eksekusi Berantakan

ULASAN Lupa Daratan: Ambisi Besar, Eksekusi Berantakan

Lewat Ngenest satu dekade silam, Ernest Prakasa berhasil mengubah citra film komika dan mengukuhkan diri sebagai penulis-sutradara yang piawai memadukan humor dengan drama keluarga. Namun pada Lupa Daratan, muncul kesan bahwa Ernest justru kehilangan sentuhan tersebut.

Film ini menghadirkan Vino G. Bastian sebagai Vino Agustian, aktor superpopuler yang arogan dan akhirnya “kehilangan” kemampuan berakting. Karakter ini menjadi alat satir Ernest terhadap industri film Indonesia: dominasi produser tertentu, minimnya ruang bagi karya nonkomersial, hingga isu relasi kuasa. Sayangnya, kritik itu hanya disentuh di permukaan dan tak digarap mendalam.

Penokohan Vino terasa inkonsisten. Ia digambarkan sangat egois, tetapi tiba-tiba mau mendukung film pendek teman lamanya, keputusan yang tak dibangun kuat dalam naskah. Konflik utama—Vino yang tak lagi bisa berakting—juga kurang dieksplorasi, padahal berpotensi melahirkan banyak momen segar dan reflektif.

Fokus film kian melebar ketika drama keluarga dimasukkan lewat sosok Iksan, kakak Vino yang berjasa besar di masa lalu. Agus Kuncoro tampil sangat kuat, namun penggunaan kilas balik untuk menggali relasi kakak-adik ini terasa kasar dan dipaksakan, sehingga alurnya makin kacau.

Secara keseluruhan, Lupa Daratan tampak terlalu ambisius mengangkat banyak isu sekaligus. Humornya terasa usang, pesannya kerap seperti ceramah, bahkan selipan isu rokok hadir layaknya iklan layanan masyarakat. Di saat sineas lain di bawah bendera Imajinari melahirkan komedi yang lebih segar dan konsisten, Ernest justru terjebak pada formula lama yang kurang matang.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini