REVIEW Beauty and the Beat: Benturan Diva Lawas dan Bintang Digital di Tengah Riuh Generasi Baru
Plaifun (Jacqueline Muench) merupakan gambaran diva klasik yang dibesarkan oleh era kejayaan balada sendu bernada tinggi. Ia dipuja karena suara dan citra sempurnanya, menjaga standar kecantikan ketat, bahkan masih menyamarkan diri saat makan di ruang publik. Namun, di zaman media sosial yang gemar membongkar kepalsuan figur publik, muncul pertanyaan besar: apakah masih ada ruang bagi diva lama seperti Plaifun?
Setelah tujuh tahun menghilang dari dunia musik, Plaifun berusaha kembali dengan menggelar konser tunggal. Sayangnya, posisinya kini tak lagi sama. Ia dianalogikan seperti kaset di tengah dominasi layanan streaming—masih dicintai segelintir penggemar karena nostalgia, tetapi dianggap usang oleh banyak orang. Dalam dirinya, kenangan masa lalu terus berputar, meski dunia sudah enggan mendengarkannya.
Melihat kondisi tersebut, sang manajer Kob (Bobby Nimit Lugsamepong) menyarankan Plaifun berkolaborasi dengan trio sensasi internet, Gang Takhli. Grup ini terdiri dari Pitta P. (Thongchai Thongkanthom) sang “Ratu Rap”, Copter (NuNew Chawarin Perdpiriyawong) si “Pangeran T-pop”, serta Laila (Ninew Phetdankaeo), penyanyi folk dengan sentuhan mistis. Musik ceria, citra apa adanya, dan aksi panggung mereka yang eksplosif membuat Gang Takhli digandrungi Gen Z.
Perbedaan citra dan nilai antara Plaifun dan Gang Takhli memicu gesekan yang merepresentasikan konflik lintas generasi. Ketegangan semakin memanas ketika Alex Kim (Keng Harit Buayoi), bintang K-pop yang tengah naik daun, ikut bergabung dalam konser tersebut.
Lewat Beauty and the Beat—atau judul aslinya Diva, la Vie—sutradara Kittiphak Thong-Uam menyuguhkan pertunjukan berdurasi 125 menit yang penuh warna. Film ini dipenuhi kostum mencolok, aksi panggung enerjik, serta lagu pop elektronik yang mudah melekat di kepala. Seluruh pemain tampil total, terutama dalam ranah komedi, seolah berlomba merebut sorotan.
Jacqueline Muench tampil tanpa rem, memaksimalkan gestur dan ekspresi hingga nyaris berlebihan. Trio Gang Takhli pun tak kalah liar, terus memompa energi demi memancing tawa. Meski beberapa lelucon terasa meleset sasaran, naskah garapan Kittiphak Thong-Uam bersama Parames Samranrom dan Waneepan Ounphoklang tetap kaya kreativitas, kerap menghadirkan humor dari arah yang tak terduga.
Penonton diajak pasrah menikmati absurditas khas film Thailand tanpa perlu memaksakan logika. Alur cerita bahkan membawa kejutan di babak ketiga dengan meleburkan elemen horor, memberi ruang bagi Keng Harit Buayoi menunjukkan pesona komediknya.
Editor: Lulu
Terkait
NYALANUSANTARA, Surabaya – Presiden Jokowi sahkan Undang Undang…
NYALANUSANTARA, Semarang - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bersiap…
Terkini
NYALANUSANTARA, Jakarta — Perdana Menteri Australia Anthony Albanese…
NYALANUSANTARA, Jakarta— Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu…
NYALANUSANTARA, Jakarta - Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan…
NYALANUSANTARA, Jakarta— Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menjajaki…
NYALANUSANTARA, Semarang- Bulan suci Ramadan merupakan bulan penuh…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI)…
NYALANUSANTARA, Semarang- Mengawali tahun 2026, Horison Ultima Sentraland…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono,…
NYALANUSANTARA, Semarang– Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, melakukan…
NYALANUSANTARA, MUMBAI- Film epik Ramayana yang dibintangi Ranbir Kapoor…
Komentar