REVIEW Kuyank, Horor Sunyi yang Menyentuh Luka Sosial dan Ketakutan Manusia
Film horor Indonesia kembali mengangkat cerita rakyat, namun Kuyank hadir dengan pendekatan yang berbeda. Disutradarai Johansyah Jumberan, film ini tidak mengandalkan kejutan atau jumpscare berlebihan. Sebaliknya, Kuyank bergerak perlahan, sunyi, dan menekan emosi penonton secara bertahap. Tayang di bioskop mulai 29 Januari 2026, film ini menjadi prekuel dari Saranjana: Kota Gaib (2023) dan sukses memperluas semestanya menjadi lebih gelap sekaligus terasa lebih dekat dengan realitas.
Jika Saranjana berbicara tentang kota gaib yang tersembunyi, Kuyank mengajak penonton menelusuri akar luka yang melahirkan teror. Film ini seolah menegaskan bahwa kengerian kerap lahir bukan semata dari makhluk gaib, melainkan dari manusia dan ketakutan yang mereka ciptakan sendiri.
Cerita berpusat pada Rusmiati (Putri Intan Kasela), perempuan desa yang menikah dengan Badri (Rio Dewanto), sosok pria terpandang di lingkungannya. Awalnya, kehidupan rumah tangga mereka berjalan wajar. Namun tekanan mulai muncul ketika Rusmiati tak kunjung mengandung. Desakan adat dan ekspektasi keluarga perlahan memojokkan posisinya sebagai istri.
Diliputi rasa takut kehilangan suami dan martabat, Rusmiati terdorong mengambil jalan ekstrem dengan mempelajari ajian kuyang. Dari titik ini, film memperlihatkan bahwa horor tidak selalu hadir dalam wujud monster, tetapi juga melalui pilihan-pilihan pahit yang diambil manusia saat berada di bawah tekanan sosial.
Menariknya, Kuyank tidak memosisikan kuyang sekadar sebagai sosok antagonis. Makhluk ini justru menjadi simbol stigma, represi, dan ketakutan kolektif terhadap perempuan. Teror yang muncul terasa lebih mengusik karena berakar pada konflik yang sangat manusiawi dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Saat desa mulai dilanda teror dan ibu hamil menjadi korban, ketegangan dibangun bukan lewat adegan gaduh, melainkan melalui rasa cemas yang terus merayap. Penonton diajak mempertanyakan, siapa yang sebenarnya lebih menakutkan: makhluk gaib atau manusia yang terkungkung oleh kepercayaannya sendiri?
Dari sisi penyutradaraan, Kuyank memilih atmosfer sebagai kekuatan utama. Ritme cerita berjalan lambat namun konsisten, didukung tata suara yang minimalis dan visual sederhana namun sugestif. Rasa takut tidak hadir secara instan, melainkan mengendap dan meninggalkan kegelisahan yang bertahan lama.
Film ini juga menampilkan budaya lokal Kalimantan secara organik. Selain mitos kuyang, hadir pula kisah hantu banyu, kehidupan masyarakat sungai, ritual adat, hingga dinamika desa yang menyatu dengan alur cerita, bukan sekadar tempelan visual.
Sebagai kesimpulan, Kuyank bukan horor yang ditujukan untuk semua penonton. Film ini menuntut kesabaran dan kesiapan emosional. Namun bagi mereka yang siap menyelami ceritanya, Kuyank menawarkan pengalaman horor yang lebih dalam dan membekas.
Sebagai prekuel, Kuyank berhasil memperkuat semesta Saranjana dengan cara yang sunyi namun menghantui—sebuah horor tentang luka, ketakutan, dan kepercayaan yang diam-diam membentuk teror itu sendiri.
Editor: Lulu
Terkait
NYALANUSANTARA, Batang - Desa Sawahjoho, Batang - Program…
NYALANUSANTARA, Blora – Komando Distrik Militer (Kodim) 0721/Blora…
Terkini
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Sebanyak 30 penerbangan di Bandara Internasional Supadio…
NYALANUSANTARA, TANGGERANG- Tiongkok meluncurkan rencana aksi khusus untuk mempercepat…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Kendaraan energi baru atau new energy vehicle…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Robot humanoid hiper-realistis Elf Xuan mencuri perhatian…
NYALANUSANTARA, BEIJING- Tiongkok menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan…
NYALANUSANTARA, Paris – Universitas Diponegoro (UNDIP) memperkuat langkah…
NYALANUSANTARA, Semarang— Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI…
NYALANUSANTARA, DEPOK- Xiaomi memastikan seri Redmi Note 17 akan…
NYALANUSANTARA, Jepara – Komitmen Badan Pengelola Kampus Jepara…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- JSW Motors akan memperkenalkan model perdananya di…
NYALANUSANTARA, Mungkid— Peternak di Kabupaten Magelang didorong mulai…

Komentar