ULASAN Surat untuk Masa Mudaku: Memahami “Anak Nakal” dari Luka yang Tak Pernah Didengar

ULASAN Surat untuk Masa Mudaku: Memahami “Anak Nakal” dari Luka yang Tak Pernah Didengar

Saya tumbuh berdekatan dengan sebuah panti asuhan berbasis agama, tempat kakek saya menjadi salah satu pengurusnya. Dari sana, saya menyaksikan pola yang berulang hampir di setiap generasi: selalu ada satu anak yang amat berbakat dalam ilmu agama, disegani karena kecerdasannya, tetapi juga kerap terseret masalah. Mengutil di swalayan, mabuk-mabukan, atau sekadar berpacaran—cukup bagi lingkungan untuk memberi cap sederhana: anak nakal. Jarang sekali ada yang bertanya lebih jauh, apa yang sebenarnya mereka tanggung.

Surat untuk Masa Mudaku lahir sebagai ajakan untuk memahami anak-anak semacam itu.

Film ini berpusat pada Kefas, yang di masa kecilnya diperankan Theo Camillo Taslim, dan di masa dewasa oleh Fendy Chow. Ia adalah salah satu penghuni Panti Asuhan Pelita Kasih, seorang anak cerdas yang sulit diatur. Cerita dibuka dari masa kini, saat Kefas dewasa telah bergelimang harta, tetapi justru kehilangan istrinya, Rania (Agla Artalidia), yang pergi karena Kefas dinilai terlalu berlebihan dalam memproteksi anak mereka.

Sikap overprotektif itu berakar dari trauma masa kecil. Di panti, Kefas pernah kehilangan adiknya karena sakit, sementara pengurus harian kala itu justru kabur membawa barang-barang donasi. Peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam: rasa bersalah, kehilangan, dan ketidakpercayaan pada orang dewasa.

Ketika panti kedatangan pengurus baru—Pak Simon (Agus Wibowo), seorang pria tua dengan wajah sendu dan sikap tertutup—Kefas dengan segala “kenakalannya” bertekad membuat pria itu tidak betah. Ia menguji batas, memancing emosi, dan berulah dengan cara-cara yang kerap disalahartikan sebagai watak buruk semata.

Kita tahu arah cerita ini. Kefas kelak akan meninggalkan kenakalannya. Hubungannya dengan Pak Simon akan tumbuh menjadi relasi ayah-anak. Namun tujuan utama naskah Daud Sumolang bukanlah mendobrak pakem melodrama chosen family, melainkan memberi konteks: bahwa kenakalan anak panti sering kali adalah bahasa dari luka yang tak punya kosakata lain.

Dalam dunia yang mudah menghakimi, Surat untuk Masa Mudaku mengingatkan betapa gampangnya mereka yang hidup dengan privilege memberi label tanpa mau menyelami dinamika psikologis anak-anak yang tumbuh tanpa keluarga. Film ini berbicara tentang kesepian—yang dialami Kefas, Pak Simon yang menyimpan rahasia kelam, dan anak-anak panti lain yang tak kunjung dijemput orang tua baru.

Dampak emosional film ini terasa paling kuat ketika seluruh karakter akhirnya berkumpul, merayakan kepemilikan akan satu sama lain. Sebuah kebersamaan sederhana, tetapi berpendar cukup terang untuk menghapus gelap sepi yang lama mengendap.

Di kursi sutradara, Sim F. tampak sadar bahwa naskahnya sudah sarat peristiwa melodramatis. Ia tidak menambahkan bumbu berlebihan. Alih-alih meremas emosi penonton, film ini terasa seperti pelukan—lembut, hangat, dan tidak memaksa air mata. Nilai kebersamaan disampaikan tanpa khotbah atau nada menggurui.

Akting para pemain menjadi penopang utama. Agus Wibowo tampil sangat kuat; sorot matanya perlahan berubah dari kehampaan yang memilukan menjadi penuh kasih. Deretan pemain muda seperti Aqila Herby (sebagai Sabrina, penghuni panti paling senior dan paling galak) serta Cleo Haura (Joy, sahabat terdekat Kefas) memudahkan penonton membangun empati lewat permainan yang jujur dan bersahaja.

Sebagaimana lagu legendaris Chrisye yang dinyanyikan dengan indah dalam salah satu adegan, Surat untuk Masa Mudaku terasa seperti kidung untuk mereka yang berusaha menghapus mendung bernama kesepian.

Bukan film yang luar biasa hebat.
Namun ia adalah film yang luar biasa baik—dan itu, dalam konteksnya, jauh lebih penting.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini