ULASAN The Secret Agent: Thriller Politik yang Menolak Menenangkan Penontonnya

ULASAN The Secret Agent: Thriller Politik yang Menolak Menenangkan Penontonnya

Selama cukup lama menonton The Secret Agent, penonton dibiarkan berada dalam ketidakpastian. Identitas sang protagonis, alasan kepindahannya, tujuan yang ia sembunyikan, hingga bagaimana berbagai subplot yang sesekali muncul akan terhubung dengan kisah utamanya, semuanya sengaja dikaburkan. Seperti judulnya, film ini terasa seperti “udara”—sesuatu yang dihirup karakternya untuk bertahan hidup, namun tak pernah benar-benar terlihat jelas.

Film dibuka dengan perjalanan Armando (Wagner Moura) menuju Recife. Ketegangan langsung terasa saat ia singgah di sebuah SPBU, tempat mayat yang telah membusuk dibiarkan tergeletak selama berhari-hari. Dua polisi menghentikannya. Melalui penyuntingan dan pergerakan kamera yang presisi, sutradara Kleber Mendonça Filho secara perlahan menanamkan rasa cemas, seolah keselamatan Armando berada di ujung tanduk.

Armando lolos setelah memberikan rokok sebagai pengganti uang pelicin. Ia tiba di Recife di tengah hiruk-pikuk karnaval, yang menurut kabar telah memakan 91 korban. Pada waktu bersamaan, potongan kaki manusia ditemukan di dalam bangkai hiu macan—detail ganjil yang memperkuat suasana mencekam.

Di kota itu, Armando menetap di apartemen khusus pengungsi yang dikelola Dona Sebastiana (Tânia Maria). Ia memakai nama samaran “Marcelo”, bekerja di kantor pendataan penduduk, sesekali menemui anak yang tinggal di rumah mertuanya sejak kematian sang istri, serta menjalin relasi dengan Euclides (Robério Diógenes), kepala polisi yang korup.

Berlatar tahun 1977, The Secret Agent menggambarkan era “kebebasan semu”—masa di mana pesta berlangsung tanpa henti, tetapi kekuasaan juga leluasa membungkam suara-suara gelisah. Armando ikut menikmati atmosfer itu lewat hubungan tanpa komitmen dengan Claudia (Hermila Guedes), sesama penghuni apartemen. Namun di balik kebebasan tersebut, penguasa dengan mudah menghapus individu yang mengganggu dan menggantinya dengan berita palsu sebagai pengalih perhatian publik.

Saat film-film horor seperti Jaws dan The Omen mendominasi bioskop sebagai pelarian dari realitas, The Secret Agent justru menolak menjadi eskapisme. Film ini tidak menawarkan pelarian dari kenyataan, melainkan menjadi pengingat pahit tentang bagaimana kebenaran kerap dimanipulasi lewat kekerasan dan pertumpahan darah.

Dengan durasi 161 menit, film ini jelas tidak dirancang untuk pengalaman menonton yang ringan. Pilihan pengarahan Mendonça Filho yang mengedepankan kesunyian membuatnya terasa lebih tenang dibandingkan gaya sinema grindhouse kelas B yang menginspirasinya. Kekerasan tidak disajikan sebagai hiburan berlebihan, melainkan sebagai bagian dari realitas yang tak memberi rasa aman.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini