Review The Mummy (2026): Horor Gelap yang Brutal, Namun Kurang Membekas

Review The Mummy (2026): Horor Gelap yang Brutal, Namun Kurang Membekas

Film The Mummy garapan Lee Cronin hadir dengan pendekatan baru yang jauh dari versi petualangan klasik ala Brendan Fraser. Kali ini, kisah mumi diubah menjadi horor psikologis yang lebih intim, gelap, dan penuh ketegangan emosional.

Alih-alih berlatar gurun Mesir, film ini mengambil setting rumah keluarga modern. Cerita berfokus pada keluarga Cannon yang dikejutkan dengan kembalinya sang anak, Katie, setelah hilang selama delapan tahun. Namun, kepulangannya justru membawa teror supranatural yang perlahan menghancurkan keluarga tersebut.

Pendekatan slow burn horror menjadi kekuatan utama film ini. Ketegangan dibangun secara perlahan, dimulai dari misteri hingga berkembang menjadi mimpi buruk yang intens. Atmosfer mencekam diperkuat dengan visual gelap dan desain suara yang detail, menciptakan rasa tidak nyaman yang konsisten sepanjang film.

Dari sisi visual, film ini tampil berani dengan elemen body horror yang cukup ekstrem. Transformasi fisik karakter hingga adegan mumifikasi ditampilkan secara eksplisit, memberikan sensasi ngeri yang kuat, meski terkadang terasa berlebihan. Gaya ini mengingatkan pada karya-karya horor modern yang mengandalkan ketegangan fisik dan psikologis sekaligus.

Penampilan Jack Reynor sebagai Charlie cukup solid dalam menggambarkan konflik batin seorang ayah. Sementara itu, Natalie Grace berhasil menghadirkan sosok Katie yang menyeramkan sekaligus tragis. Sayangnya, hubungan emosional antar karakter terasa kurang kuat, sehingga dampak dramatisnya tidak sepenuhnya maksimal.

Meski menawarkan konsep yang segar, film ini masih terjebak dalam alur yang cukup familiar. Di bagian akhir, ritme cerita mulai melemah dan beberapa keputusan karakter terasa kurang logis. Selain itu, ketergantungan pada efek kejut membuat rasa takutnya tidak bertahan lama setelah film selesai.

Secara keseluruhan, The Mummy versi 2026 adalah horor yang intens dan berani secara visual, cocok untuk penonton yang menyukai teror ekstrem. Namun dari sisi cerita dan emosi, film ini belum sepenuhnya berhasil meninggalkan kesan mendalam.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini