Review Ain: Horor Body Horror yang Angkat Teror Media Sosial

Review Ain: Horor Body Horror yang Angkat Teror Media Sosial

CINEMA XXI

Film horor Indonesia kembali menghadirkan sesuatu yang berbeda lewat Ain. Jika kebanyakan film horor lokal identik dengan rumah angker atau sosok makhluk gaib, Ain justru menawarkan kengerian yang terasa lebih dekat dengan kehidupan modern, terutama dunia media sosial dan obsesi terhadap popularitas.

Mengusung konsep body horror dengan sentuhan spiritual, film ini tidak hanya menampilkan visual disturbing yang mengganggu, tetapi juga menyisipkan kritik sosial tentang budaya flexing, haus validasi, hingga bahaya iri dengki di era digital. Sejak tayang di bioskop Indonesia pada 7 Mei 2026, Ain langsung menarik perhatian pecinta horor karena premisnya yang tidak biasa.

Beauty Influencer yang Diteror Tubuhnya Sendiri

Cerita berfokus pada Joy Putri yang diperankan Fergie Brittany, seorang beauty influencer sukses dengan kehidupan yang tampak sempurna di media sosial. Joy aktif membagikan konten kecantikan, gaya hidup glamor, hingga pencapaian pribadinya demi mempertahankan popularitas.

Namun di balik pujian dan perhatian para pengikutnya, hidup Joy perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Tubuhnya mulai mengalami perubahan aneh yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Kulitnya berubah, bentuk tubuhnya perlahan mengalami deformasi mengerikan, hingga membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di tengah kondisi tersebut, sahabatnya Dini yang diperankan Putri Ayudya mencoba mencari penyebab di balik kejadian itu. Dini meyakini Joy terkena ain, sebuah gangguan akibat tatapan hasad dan rasa iri dari orang lain.

Horor yang Relevan dengan Kehidupan Modern

Salah satu kekuatan utama Ain terletak pada tema yang terasa dekat dengan kehidupan masa kini. Film ini seperti menjadi refleksi tentang budaya pamer kehidupan di media sosial yang sering memicu kecemburuan sosial dan tekanan mental.

Konsep ain digunakan sebagai simbol energi negatif akibat rasa iri dan dengki. Menariknya, pesan tersebut disampaikan cukup halus tanpa terasa menggurui, sehingga elemen horornya tetap menjadi fokus utama cerita.

Film ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial bisa membuat seseorang terus mengejar validasi publik. Semakin besar popularitas yang diraih, semakin besar pula tekanan psikologis yang harus ditanggung.


Editor: Lulu

Komentar

Terkini