Review Film Living the Land: Potret Kehidupan Desa yang Hangat di Tengah Arus Modernisasi
CINEMA XXI
Film Living the Land karya Huo Meng membuka kisahnya dengan sebuah adegan yang sarat makna. Sebuah keluarga menggali kembali tulang-belulang kerabat mereka untuk dimakamkan bersama anggota keluarga yang baru meninggal dunia. Momen tersebut langsung memperlihatkan bagaimana masyarakat desa memandang kehidupan dan kematian sebagai bagian dari rangkaian ritual yang sakral.
Berlatar di Desa Bawangtai pada tahun 1991, film ini mengikuti perjalanan seorang anak laki-laki bernama Chuang yang menjadi jembatan utama antara penonton dan cerita. Melalui sudut pandangnya yang polos, penonton diajak memahami kehidupan masyarakat pedesaan yang tengah berada di persimpangan antara tradisi lama dan gelombang modernisasi yang mulai masuk ke lingkungan mereka.
Huo Meng dengan cermat menempatkan penonton sejajar dengan Chuang. Banyak persoalan sosial dan keluarga yang tidak dijelaskan secara langsung, melainkan perlahan terungkap melalui pengamatan sang anak. Chuang melihat kesedihan bibinya, Xiuying, yang harus menerima pinangan pria asing. Ia juga menyaksikan sepupunya terancam putus sekolah karena keluarga tidak mampu membayar iuran dalam bentuk gandum. Namun seperti anak-anak pada umumnya, ia belum benar-benar memahami akar persoalan yang terjadi di sekitarnya.
Di tengah berbagai konflik tersebut, Chuang tetap menemukan kebahagiaan sederhana. Salah satu momen paling berkesan adalah ketika seluruh keluarga menikmati es loli bersama di sela-sela panen gandum. Adegan-adegan seperti inilah yang menjadi kekuatan utama film, menghadirkan kehangatan kehidupan komunal yang mungkin juga merupakan refleksi kenangan masa kecil sang sutradara.
Secara visual, Living the Land tampil memukau. Huo Meng menghadirkan rangkaian gambar yang memperlihatkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Lanskap pedesaan, aktivitas pertanian, serta interaksi antaranggota keluarga ditampilkan dengan sentuhan yang puitis namun tetap membumi.
Meski demikian, film ini tidak terjebak dalam romantisasi kehidupan desa. Salah satu keunggulan terbesar Living the Land adalah kemampuannya melihat tradisi dan modernisasi secara seimbang. Modernisasi memang digambarkan membawa ancaman berupa keserakahan, korupsi tingkat akar rumput, hingga perubahan fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri. Namun film ini juga menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu menghadirkan kebaikan.
Tokoh Xiuying dan nenek buyut dalam keluarga Chuang menjadi contoh bagaimana budaya patriarki masih membatasi kehidupan perempuan. Melalui kisah mereka, film menyoroti persoalan pernikahan, tekanan sosial, dan posisi perempuan dalam masyarakat tradisional.
Pendekatan yang tidak memihak inilah yang membuat Living the Land terasa begitu kuat. Film ini tidak berusaha menyalahkan atau membenarkan satu sisi. Sebaliknya, Huo Meng membiarkan tradisi dan modernisasi saling bertabrakan serta membentuk kompleksitas kehidupan yang nyata.
Akibatnya, pengalaman menonton film ini dipenuhi emosi yang berlapis. Ada rasa hangat dari kebersamaan keluarga dan komunitas, tetapi juga kesedihan yang muncul dari berbagai keterbatasan dan ketidakadilan yang mereka hadapi.
Perasaan tersebut mencapai puncaknya pada adegan penutup yang menjadi cerminan dari pembukaan film. Kali ini keluarga besar Chuang bersama-sama mengangkut abu seorang anggota keluarga menggunakan traktor tua untuk dibawa pulang ke tanah kelahirannya. Di tengah tangisan dan duka, tetap hadir percakapan serta kebersamaan yang menenangkan.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Aston Villa resmi mendatangkan gelandang asal Brasil,…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Mantan pemain dan pelatih tim nasional Inggris,…
NYALANUSANTARA, Semarang- Di tengah deru persiapan menuju pembukaannya,…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama dengan…
NYALANUSATARA, JAKARTA- Bek tim nasional Spanyol Pedro Porro mengungkapkan…
NYALAUSANTARA, JAKARTA- Penyerang Spanyol Ferran Torres menyebut keberhasilan timnya…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Kemenangan tim nasional Spanyol pada Piala Dunia…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kanwil Ditjenpas Jateng terus memperkuat…
NYALANUSANTARA, Boyolali – Upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai…
NYALANUSANTARA, Klaten – Kanwil Kemenkum Jateng melalui Tim…
NYALANUSANTARA, Semarang - Dinas Kesehatan atau Dinkes Kota…

Komentar