Review Film Moana (2026): Visual Memukau, tetapi Sulit Menandingi Pesona Versi Animasi

Review Film Moana (2026): Visual Memukau, tetapi Sulit Menandingi Pesona Versi Animasi

CINEMA XXI

Hampir satu dekade setelah versi animasinya dirilis, Disney menghadirkan Moana dalam format live-action. Disutradarai oleh Thomas Kail, film ini mulai tayang di bioskop Indonesia pada 8 Juli 2026 dengan Catherine Laga'aia sebagai Moana dan Dwayne Johnson yang kembali memerankan Maui.

Sejak diumumkan, remake ini memicu beragam tanggapan. Bukan karena kualitas film aslinya diragukan, melainkan karena Moana (2016) masih dianggap sebagai salah satu film animasi terbaik Disney. Pertanyaan pun muncul: apakah kisah ini benar-benar membutuhkan versi live-action? Setelah menyaksikannya, jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Cerita Tetap Familiar

Disney memilih mempertahankan hampir seluruh alur cerita dari film animasinya. Moana masih digambarkan sebagai gadis muda dari Pulau Motunui yang berlayar melintasi samudra untuk mengembalikan jantung Dewi Te Fiti demi menyelamatkan kampung halamannya.

Dalam petualangan tersebut, ia kembali bertemu Maui, manusia setengah dewa yang keras kepala sekaligus karismatik. Berbagai adegan ikonik, mulai dari pertemuan pertama mereka, aksi para Kakamora, kemunculan Tamatoa, hingga pertarungan melawan Te Kā, kembali ditampilkan hampir tanpa perubahan berarti.

Bagi penonton yang belum pernah menyaksikan versi animasi, kisah ini tetap menawarkan petualangan yang seru. Namun bagi penggemar lama, remake ini terasa terlalu mirip sehingga minim kejutan.

Visual Spektakuler, tetapi CGI Terlalu Mendominasi

Dari sisi teknis, Disney kembali menunjukkan kualitas produksi kelas atas. Pemandangan lautan, gugusan kepulauan Polinesia, hingga berbagai makhluk mitologi tampil dengan detail yang mengesankan.

Meski demikian, label live-action terasa kurang maksimal karena sebagian besar dunia film masih dibangun menggunakan teknologi CGI. Karakter seperti Heihei, Kakamora, dan Tamatoa memang terlihat menarik, tetapi dalam beberapa adegan tampil kurang menyatu dengan para pemeran manusia.

Hasilnya, film ini lebih terasa seperti versi animasi dengan tampilan visual yang lebih realistis dibanding menghadirkan pengalaman yang benar-benar baru.


Editor: Lulu

Komentar

Terkini