Review 402 Rumah Sakit Angker Korea: Adaptasi Gonjiam dengan Sentuhan Horor Lokal

Review  402 Rumah Sakit Angker Korea: Adaptasi Gonjiam dengan Sentuhan Horor Lokal

CINEPOLIS

Film horor 402 Rumah Sakit Angker Korea resmi menghiasi layar bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026. Disutradarai oleh Anggy Umbara, film garapan MD Pictures, Umbara Brothers Film, dan Pichouse Films ini merupakan adaptasi dari film horor Korea Selatan Gonjiam: Haunted Asylum (2018), yang dikenal sebagai salah satu film bergenre found footage paling ikonik di Asia.

Mengadaptasi film yang telah memiliki basis penggemar besar tentu menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, Gonjiam tidak hanya mengandalkan kejutan (jump scare), tetapi juga membangun ketegangan melalui atmosfer sunyi yang penuh misteri. Tantangan tersebut dijawab Anggy Umbara bersama penulis naskah Lele Laila dengan menghadirkan interpretasi baru yang tetap menghormati karya aslinya.

Alih-alih memindahkan latar ke Indonesia, film ini tetap mengambil lokasi di rumah sakit terbengkalai di Korea Selatan. Bedanya, tokoh utama merupakan sekelompok kreator konten asal Indonesia yang datang untuk melakukan siaran langsung demi mengejar popularitas di media sosial. Pendekatan tersebut membuat film terasa dekat dengan kehidupan masa kini, tanpa meninggalkan identitas cerita aslinya.

Perburuan Konten yang Berujung Teror

Kisah berpusat pada Juna (Arbani Yasiz), pemimpin tim pemburu hantu yang mengajak Adit (Saputra Kori), Bara (Elang El Gibran), Arum (Diandra Agatha), Yuri (Lea Ciarachel), Tyas (Aylena Fusil), serta Dae-Ho (Jang Hansol) menjelajahi rumah sakit angker di Korea Selatan.

Mereka menargetkan tiga juta penonton melalui siaran langsung agar konten yang dibuat menjadi viral sekaligus menghasilkan keuntungan besar. Awalnya, ekspedisi berlangsung lancar. Namun, situasi berubah drastis setelah mereka melakukan ritual jelangkung. Sejak saat itu, berbagai kejadian mistis bermunculan dan misi berburu konten berubah menjadi perjuangan untuk menyelamatkan diri.

Tetap Menghormati Gonjiam, tetapi Memiliki Identitas Sendiri

Bagi penonton yang telah menyaksikan Gonjiam, sejumlah elemen tentu terasa familiar, mulai dari konsep found footage, penggunaan kamera body-cam, hingga format siaran langsung. Meski demikian, Anggy Umbara tidak sekadar menyalin film aslinya.

Kehadiran ritual jelangkung menjadi pembeda utama yang menghadirkan nuansa horor khas Indonesia di tengah latar Korea Selatan. Sentuhan tersebut membuat film tetap memiliki karakter tersendiri meskipun masih membawa DNA dari karya yang menginspirasinya.

Konflik Antartokoh Menambah Intensitas Cerita

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini