Review 402 Rumah Sakit Angker Korea: Adaptasi Gonjiam dengan Sentuhan Horor Lokal
CINEPOLIS
Selain menghadirkan teror supranatural, film ini juga memperkuat cerita melalui konflik antarkarakter. Ambisi mengejar popularitas perlahan memengaruhi hubungan para anggota tim hingga rasa saling percaya mulai memudar.
Transformasi karakter Juna menjadi salah satu daya tarik utama. Arbani Yasiz mampu menampilkan perubahan sosok pemimpin yang awalnya hanya ingin membuat konten viral menjadi pribadi yang terobsesi menyelesaikan misinya, apa pun risikonya. Konflik internal tersebut membuat ancaman dalam film tidak hanya berasal dari makhluk gaib, tetapi juga dari keputusan para tokohnya.
Atmosfer Belum Seintens Film Aslinya
Dari sisi teknis, penggunaan kamera bergaya body-cam berhasil memberikan pengalaman yang lebih imersif, seolah penonton ikut menyusuri lorong-lorong rumah sakit bersama para karakter.
Meski demikian, atmosfer mencekam yang menjadi kekuatan utama Gonjiam belum sepenuhnya mampu dihadirkan. Film lebih banyak mengandalkan musik latar sebagai pembangun ketegangan sehingga nuansa sunyi yang seharusnya menciptakan rasa tidak nyaman terasa kurang maksimal.
Pencahayaan yang minim di beberapa adegan memang mendukung kesan misterius, tetapi di sisi lain membuat detail visual rumah sakit tidak selalu terlihat jelas. Meski begitu, film tetap menyuguhkan beberapa adegan horor yang intens dengan unsur gore yang lebih berani dibanding versi Korea. Penutup film juga meninggalkan kesan mendalam melalui penggunaan soundtrack bernuansa ritual yang memperkuat aura mistis.
Layak Ditonton bagi Pecinta Horor
Meski belum mampu menyamai atmosfer ikonik yang dimiliki Gonjiam: Haunted Asylum, 402 Rumah Sakit Angker Korea bukan sekadar remake biasa. Lewat perpaduan konsep found footage, konflik psikologis antarkarakter, serta sentuhan horor khas Indonesia, film ini berhasil menghadirkan identitasnya sendiri.
Bagi penonton yang belum pernah menyaksikan Gonjiam, film ini menawarkan pengalaman horor yang menegangkan dengan cerita yang relevan dengan era media sosial. Sementara bagi penggemar film aslinya, karya Anggy Umbara ini dapat dinikmati sebagai interpretasi baru yang menghadirkan warna berbeda, meski masih berada di bawah bayang-bayang film yang menjadi inspirasinya.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang - Semarak peringatan Hari Pengayoman ke-81…
NYALANUSANTARA, Semarang - Semangat berbagi dan kepedulian terhadap…
Surabaya – Kementerian Hukum mulai menguji pendekatan baru…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul– Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus memperkuat sektor…
NYALANUSANTARA, Pemalang– Pemerintah Kabupaten Pemalang bersama DPRD Kabupaten…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul– Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus mendorong peningkatan…
NYALANUSANTARA, Purbalingga– Kesempatan besar datang bagi Aimar Nahsif…
NYALANUSANTARA, Pemalang– Sebanyak 32 anggota Pramuka Penggalang Kabupaten…
NYALANUSANTARA, Slawi– Di tengah tantangan kenaikan biaya produksi…
NYALANUSANTARA, Cilacap– Dampak musim kemarau mulai dirasakan sejumlah…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul– Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP)…

Komentar