Review Pemikat Jiwa: Horor Psikologis yang Mengangkat Mitos Pelet dengan Sentuhan Emosional

Review Pemikat Jiwa: Horor Psikologis yang Mengangkat Mitos Pelet dengan Sentuhan Emosional

CINEMA XXI

Genre horor Indonesia kembali menghadirkan warna baru melalui Pemikat Jiwa, film terbaru karya sutradara Dom Dharmo yang mulai tayang di bioskop pada 9 Juli 2026. Berbeda dari kebanyakan film horor yang mengandalkan rumah berhantu atau sosok makhluk gaib sebagai sumber ketegangan, film ini memilih mengangkat mitos pelet sebagai inti ceritanya.

Lewat kisah tersebut, Pemikat Jiwa tidak hanya menawarkan teror supranatural, tetapi juga mengupas tema obsesi, penolakan, hingga hasrat mengendalikan orang lain. Perpaduan unsur horor dan drama psikologis membuat cerita terasa lebih emosional sekaligus dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Teror Berawal dari Cinta yang Tak Terbalas

Cerita mengikuti perjalanan Jay (Fajar Nugra), seorang penjual ayam di pasar yang telah lama memendam perasaan kepada Wulan (Givina Lukita). Sayangnya, cintanya tidak pernah mendapat balasan. Situasi semakin menyakitkan ketika Wulan memutuskan menjalani hidup bersama Damar (Erdin Wedrayana).

Tidak mampu menerima kenyataan, Jay memilih jalan pintas dengan menggunakan ajian Pemikat Jiwa agar Wulan jatuh cinta kepadanya. Keinginannya memang terwujud. Wulan mulai menunjukkan perhatian kepada Jay, tetapi perubahan itu bukan berasal dari perasaannya sendiri, melainkan akibat pengaruh kekuatan gaib yang perlahan menghilangkan kesadaran dan kebebasannya.

Sejak saat itu, cerita berkembang menjadi kisah mengenai dampak buruk dari obsesi yang dipaksakan. Horor dalam film ini muncul secara bertahap tanpa bergantung pada kejutan di setiap adegan.

Atmosfer Horor Dibangun Secara Perlahan

Salah satu keunggulan Pemikat Jiwa terletak pada cara Dom Dharmo membangun ketegangan. Film tidak terburu-buru menghadirkan teror, melainkan membiarkan suasana mencekam tumbuh melalui perubahan perilaku para tokoh, ekspresi yang dipenuhi kegelisahan, serta situasi yang semakin gelap seiring perkembangan cerita.

Pendekatan tersebut memberi ruang bagi penonton untuk mengenal karakter lebih dalam sebelum konflik mencapai puncaknya.

Kemunculan sosok Nyai Sasigeni juga memiliki fungsi yang lebih dari sekadar menakut-nakuti. Karakter ini menjadi simbol konsekuensi yang harus ditanggung ketika seseorang memilih menggunakan cara-cara mistis demi memaksakan keinginannya.

Dengan demikian, ancaman dalam film tidak hanya berasal dari dunia gaib, tetapi juga dari keputusan manusia yang berujung pada penyesalan.

Konflik Emosional Menjadi Kekuatan Utama

Daya tarik terbesar Pemikat Jiwa justru terletak pada hubungan antarkarakternya. Jay tidak langsung digambarkan sebagai sosok antagonis. Penonton masih dapat memahami rasa kecewa dan patah hati yang dialaminya. Namun seiring waktu, cinta yang dimilikinya berubah menjadi obsesi yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Sementara itu, Wulan menjadi karakter yang mengalami perkembangan emosi paling kompleks. Ia harus menghadapi kebingungan, kehilangan kendali atas dirinya, hingga terjebak dalam situasi yang tidak pernah diinginkannya.

Di sisi lain, Damar hadir sebagai penyeimbang cerita. Karakternya tidak hanya menjadi saingan cinta Jay, tetapi juga sosok yang berusaha menyelamatkan orang yang dicintainya dari ancaman kekuatan gaib.

Chemistry ketiga pemeran utama mampu memperkuat intensitas drama sehingga konflik yang tersaji terasa lebih alami dan emosional.

Mistik Lokal Menyatu dengan Cerita

Penggunaan unsur mistik lokal menjadi salah satu nilai tambah film ini. Mitos pelet tidak hanya dijadikan pelengkap cerita, tetapi menjadi fondasi utama yang menggerakkan seluruh konflik. Kehadiran ritual dan kepercayaan tradisional terasa menyatu dengan alur, sehingga horor yang dihadirkan memiliki identitas yang kuat dan tidak sekadar menjadi tempelan.

Layak Ditonton bagi Penikmat Horor Berbalut Drama

Pemikat Jiwa menawarkan pengalaman horor yang berbeda dari kebanyakan film Indonesia. Alih-alih mengandalkan rentetan jump scare, film ini lebih fokus membangun ketegangan melalui konflik psikologis, perkembangan karakter, dan mitos lokal yang masih lekat dengan masyarakat.

Bagi penonton yang menyukai horor dengan cerita yang emosional dan penuh makna, Pemikat Jiwa menjadi salah satu pilihan menarik di bioskop. Film ini membuktikan bahwa teror paling menyeramkan terkadang bukan hanya berasal dari dunia gaib, tetapi juga dari obsesi manusia yang tak mampu menerima kenyataan.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini