ULASAN Lastri: Arwah Kembang Desa, Horor Bernuansa Emosional dengan Sentuhan Urban Legend Jawa

ULASAN Lastri: Arwah Kembang Desa, Horor Bernuansa Emosional dengan Sentuhan Urban Legend Jawa

CINEMA XXI

Di tengah maraknya film horor Indonesia yang mengandalkan jumpscare dan kemunculan sosok menyeramkan, Lastri: Arwah Kembang Desa menawarkan pendekatan yang berbeda. Film garapan sutradara Hendry Tivo ini lebih menitikberatkan pada pembangunan atmosfer, legenda lokal, dan konflik emosional yang menjadi inti dari keseluruhan cerita.

Dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 Juli 2026, film ini memadukan kisah mistis dengan drama keluarga yang sarat penyesalan dan rahasia masa lalu. Selain itu, Lastri: Arwah Kembang Desa juga memiliki nilai sentimental karena menjadi penampilan terakhir mendiang Gary Iskak di layar lebar.

Sejak awal cerita, film menghadirkan suasana yang perlahan namun penuh ketegangan. Berlatar sebuah desa pada era 1980-an, penonton diajak masuk ke kehidupan masyarakat yang masih lekat dengan kepercayaan terhadap hal-hal gaib. Latar waktu tersebut membuat berbagai peristiwa mistis yang terjadi terasa alami dan menyatu dengan alur cerita.

Kisah berpusat pada Atmi, seorang perempuan lanjut usia yang terus dihantui teror arwah bernama Lastri. Gangguan tersebut ternyata berakar dari sebuah tragedi yang terjadi puluhan tahun silam. Seiring berjalannya cerita, berbagai rahasia kelam mulai terungkap dan membawa penonton pada kisah balas dendam yang dipenuhi luka serta penyesalan.

Alih-alih hanya mengandalkan kemunculan hantu untuk mengejutkan penonton, film ini lebih fokus membangun rasa mencekam melalui suasana, misteri, dan hubungan antartokohnya. Pendekatan tersebut membuat pengalaman horor terasa lebih mendalam dan memiliki makna.

Salah satu daya tarik utama film ini adalah keberhasilannya memadukan unsur horor dengan drama keluarga. Sosok Lastri bukan sekadar ancaman dari dunia gaib, tetapi juga menjadi simbol dari masa lalu yang belum terselesaikan.

Konflik berkembang melalui rasa bersalah, pengkhianatan, hingga luka batin yang telah lama dipendam para tokohnya. Dengan demikian, teror yang muncul tidak hanya berasal dari sosok supranatural, tetapi juga dari konsekuensi atas keputusan yang pernah diambil di masa lampau.

Hendry Tivo mengungkapkan bahwa cerita film ini terinspirasi dari urban legend yang berkembang di wilayah Pati, Jawa Tengah. Meski demikian, kisah yang dihadirkan bukan adaptasi langsung dari cerita rakyat tersebut, melainkan interpretasi baru yang dikembangkan menjadi alur yang lebih segar dan sinematis.

Aspek visual juga menjadi kekuatan penting dalam film ini. Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dipilih sebagai lokasi syuting karena mampu menghadirkan nuansa pedesaan yang masih alami. Rumah-rumah tua, jalan desa yang lengang, hingga lanskap alam yang asri berhasil menciptakan atmosfer sunyi yang mendukung ketegangan sepanjang cerita.

Nuansa tradisional yang kental membuat penonton seolah kembali ke masa ketika ritual, mitos, dan kepercayaan terhadap dunia gaib masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini