Review Film Leave No One Behind: Aksi Realistis dengan Pesan Kuat tentang Perdagangan Orang

Review Film Leave No One Behind: Aksi Realistis dengan Pesan Kuat tentang Perdagangan Orang

CINEPOLIS

Film Leave No One Behind karya sutradara Suwardi Becak Lawu hadir sebagai film aksi yang tidak hanya mengandalkan adegan pertarungan, tetapi juga mengangkat isu serius mengenai Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang masih menjadi tantangan di Indonesia. Menariknya, Suwardi tidak hanya berada di balik layar sebagai sutradara, tetapi juga memerankan tokoh utama, sehingga nuansa aksinya terasa lebih autentik berkat pengalamannya sebagai mantan juara One Pride MMA.

Sinopsis

Cerita berpusat pada AKP Suwardi, seorang anggota kepolisian yang dipindahkan dari Jakarta ke kampung halamannya di Garut untuk bergabung dalam Satuan Tugas TPPO. Misi awalnya adalah membongkar jaringan perdagangan orang yang beroperasi di wilayah tersebut.

Situasi berubah menjadi sangat pribadi ketika keponakannya, Lilis, menjadi salah satu korban penculikan sindikat yang sedang diburunya. Sejak saat itu, perjuangan Suwardi bukan lagi sekadar menjalankan tugas negara, tetapi juga menyelamatkan keluarganya sendiri.

Bersama timnya, ia memburu kelompok kriminal yang dipimpin oleh Rando. Operasi tersebut membawa mereka ke berbagai aksi penyergapan, baku tembak, hingga pertarungan jarak dekat yang berlangsung intens.

Adegan Aksi yang Terasa Natural

Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada koreografi aksinya. Tidak banyak efek visual berlebihan atau gerakan yang dibuat terlalu dramatis. Setiap pukulan, tendangan, hingga teknik melumpuhkan lawan tampil realistis dan meyakinkan.

Latar belakang Suwardi sebagai atlet MMA membuat setiap adegan pertarungan terlihat lebih hidup. Koreografi memadukan teknik bela diri modern dengan unsur pencak silat sehingga menghasilkan aksi yang terasa membumi.

Salah satu momen terbaik hadir saat penggerebekan markas sindikat perdagangan orang di kawasan permukiman padat. Pergerakan kamera mengikuti aparat melewati lorong-lorong sempit, menciptakan ketegangan yang semakin terasa. Minimnya musik latar dalam beberapa adegan justru membuat suara tembakan dan benturan fisik terdengar lebih nyata.

Tidak Sekadar Menjual Pertarungan

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini