ULASAN Samakdo Hadirkan Horor Korea dengan Teror Sekte, Ritual Okultisme, dan Luka Sejarah
ISTIMEWA
Film horor Korea Samakdo menunjukkan bahwa rasa takut tidak selalu harus dibangun melalui kemunculan makhluk gaib atau sosok hantu. Debut penyutradaraan film panjang karya Chae Ki-jun ini justru menghadirkan atmosfer mencekam lewat kisah sekte sesat, praktik ritual misterius, serta trauma sejarah yang perlahan menghancurkan kehidupan para tokohnya.
Sekilas, konsep yang ditawarkan Samakdo mungkin mengingatkan penonton pada film seperti The Wailing atau Exhuma, yang sama-sama mengangkat tema supranatural dan dunia okultisme. Namun, Samakdo memiliki pendekatan berbeda dengan memasukkan elemen investigasi jurnalistik serta latar belakang sejarah kolonial Jepang sebagai fondasi utama cerita. Perpaduan tersebut membuat horor dalam film ini terasa lebih realistis dan dekat dengan ketakutan manusia.
Meski belum mampu menyamai kekuatan film-film horor okultisme Korea terbaik dalam beberapa tahun terakhir, Samakdo tetap memberikan pengalaman menonton yang unik. Film ini cocok bagi penonton yang menyukai cerita misteri dengan pembangunan suasana yang perlahan, bukan sekadar mengandalkan kejutan mendadak.
Penyelidikan Jurnalistik yang Membuka Rahasia Kelam
Cerita Samakdo mengikuti perjalanan Chae So Yeon (Cho Yun Seo), seorang produser program investigasi yang dikenal berani mengungkap berbagai kasus terkait sekte sesat. Kehidupannya berubah ketika ia mendapat informasi dari seorang jurnalis Jepang bernama Matsuda (Kwak Shi Yang) tentang keberadaan organisasi misterius yang diyakini telah menghilang setelah berakhirnya masa penjajahan Jepang di Korea.
Namun, Matsuda mengungkap bahwa kelompok tersebut sebenarnya masih bertahan secara diam-diam. Sekte itu disebut terus menjalankan ritual rahasia di sebuah desa terpencil yang jauh dari pengawasan masyarakat luar.
Ketertarikan So Yeon terhadap kasus tersebut bukan hanya karena pekerjaannya sebagai jurnalis investigasi. Ia memiliki pengalaman traumatis sejak kecil yang berkaitan dengan kelompok keagamaan sesat. Penyelidikan tersebut akhirnya menjadi perjalanan pribadi untuk menghadapi luka masa lalu yang selama ini ia pendam.
Ketika tiba di desa tersebut, suasana mulai berubah semakin menegangkan. Penduduk setempat bersikap tertutup, berbagai ritual aneh mulai terlihat, dan kejadian-kejadian misterius terus muncul. Semakin jauh So Yeon dan timnya menggali informasi, semakin besar pula rahasia gelap yang mereka temukan.
Membangun Ketakutan Lewat Atmosfer, Bukan Jumpscare
Salah satu keunggulan utama Samakdo adalah cara film ini membangun rasa takut secara perlahan. Chae Ki-jun tidak langsung memberikan adegan mengejutkan, melainkan menciptakan ketegangan melalui suasana desa yang sunyi, ekspresi warga yang penuh misteri, serta rasa curiga yang semakin kuat dari setiap adegan.
Editor: Lulu
Terkini
Surabaya – Kementerian Hukum mulai menguji pendekatan baru…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul– Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus memperkuat sektor…
NYALANUSANTARA, Pemalang– Pemerintah Kabupaten Pemalang bersama DPRD Kabupaten…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul– Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus mendorong peningkatan…
NYALANUSANTARA, Purbalingga– Kesempatan besar datang bagi Aimar Nahsif…
NYALANUSANTARA, Pemalang– Sebanyak 32 anggota Pramuka Penggalang Kabupaten…
NYALANUSANTARA, Slawi– Di tengah tantangan kenaikan biaya produksi…
NYALANUSANTARA, Cilacap– Dampak musim kemarau mulai dirasakan sejumlah…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul– Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP)…
NYALANUSANTARA, Semarang- Persoalan sampah di Jawa Tengah membutuhkan…
NYALANUSANTARA, Semarang- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai membuka…

Komentar