Review Juminten Edan: Horor Psikologis yang Menggali Trauma, Bukan Sekadar Menebar Jump Scare

Review Juminten Edan: Horor Psikologis yang Menggali Trauma, Bukan Sekadar Menebar Jump Scare

CINEMA XXI

Nuansa tersebut mengingatkan pada horor klasik yang mengandalkan atmosfer sebagai sumber ketakutan utama. Dipadukan dengan sinematografi modern dan cerita yang sarat misteri, film ini terasa berbeda dibanding banyak horor Indonesia belakangan ini.

Akting Meisya Amira Sangat Meyakinkan

Penampilan Meisya Amira menjadi jantung kekuatan film.

Memerankan karakter tunawicara bukanlah tugas mudah. Sebagian besar emosi harus disampaikan melalui ekspresi wajah, gerak tubuh, tatapan mata, dan bahasa isyarat. Tantangan tersebut dijawab dengan sangat baik.

Tanpa banyak dialog, Meisya mampu memperlihatkan ketakutan, kebingungan, hingga keputusasaan Juminten ketika masa lalunya kembali menghantui.

Sementara itu, Dimas Aditya tampil solid sebagai Manto, sosok suami yang tetap percaya kepada istrinya ketika hampir seluruh warga desa mulai menganggap Juminten kehilangan kewarasannya. Hubungan keduanya menjadi fondasi emosional yang membuat drama keluarga dalam film terasa lebih kuat.

Representasi Difabel yang Lebih Bermakna

Salah satu aspek yang layak diapresiasi adalah cara film menggambarkan penyandang disabilitas.

Juminten tidak sekadar dijadikan simbol penderitaan atau objek belas kasihan. Karakternya tetap diperlakukan sebagai manusia utuh yang memiliki keberanian, ketakutan, pilihan hidup, dan konflik batin.

Pendekatan tersebut membuat tokoh utama terasa lebih realistis sekaligus memberi warna baru bagi perfilman horor Indonesia.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini